Sastra

CERPEN | Perempuan Penyapu Halaman [11]

Oleh : Pepih Nugraha

EMPAT ratus ribu rupiah. Dengan empat lembar rupiah merah di tangan, Hamdani sudah punya bayangan untuk dibelanjakan apa uang sebanyak itu.

Orang-orang yang berkumpul rupanya belum berniat membubarkan diri, padahal tidak ada ronggeng monyet atau penari cokek yang mengamen di pasar itu sebagai tontonan. Mereka menganggap kehadiran pasangan Hamdani–Sofiah melebihi pertunjukan ronggeng monyet atau penari cokek yang menjual sensualitas tubuh penarinya.

Apakah berkerumunnya mereka juga dengan maksud menyaksikan sensualitas tubuh seorang perempuan sinting bernanama Sofiah? Apakah pikiran ngeres kaum lelaki tidak terpengaruh oleh status sakit jiwa seorang perempuan? Atau dengan kata lain, apakah perempuan edan mampu menerbitkan rangsangan khusus bagi kaum pria?

Hamdani paham atas serenceng pertanyaan semacam itu, sebab dia sendiri seorang lelaki tulen yang bisa menjawabnya. Boleh jadi varian jawabannya akan berbeda dengan lelaki lain sebangsanya, tersebab Hamdani sendiri punya ikatan batin yang luar biasa dalam dengan Sofiah. Ia mengalaminya sendiri.

Adapun sosok Hamdani sendiri, sesungguhnya tidak lebih dari pemuda kampung yang tumbuh dan dibesarkan di tanah kelahirannya itu. Tubuhnya berisi, tetapi bukan akibat pelatihan otot secara rutin di kios-kios kebugaran sebagaimana pemuda kota lakukan. Tubuh berototnya tumbuh berkat pekerjaan sehari-hari.

Apa saja dia kerjakan sepanjang itu pekerjaan yang mengandalkan kekuatan otot-ototnya; mulai mengangkut batu dan pasir dari sungai, memundak gelondongan kayu dari hutan, memanjat pohon aren, atau merayap pohon tinggi untuk mencari sarang lebah.

Tempaan hidup yang sedemikian keras telah merenggut wajah muda Hamdani yang seharusnya ia miliki. Akibatnya, ia menjadi tampak lebih berumur, lebih terlihat dewasa. Usia terpaut empat atau lima tahun dengan Sofiah, tetapi tidak menunjukkan seorang pemuda berwajah tanggung. Ia demikian matang di usia yang menginjak 21, sedangkan Sofiah baru saja melewati usia seperempat abadnya.

Tetapi, jangan tanya tentang mata pemuda itu. Tatapannya tidaklah cemerlang, bahkan cenderung sayu. Tetapi, siapapun yang memadang mata itu, terutama kaum perempuan, niscaya akan terperosok sumur yang dalam tanpa dasar, yang sulit kembali memanjat ke permukaan. Ia akan terbenam dan terperangkap di sumur tanpa dasar itu, boleh jadi selamanya.

Contohnya adalah Rodiah.

Perempuan desa Malausma ini sesungguhnya teman sepermainan Hamdani saat kanak-kanak. Usianya terpaut setahun lebih muda dibanding Hamdani yang biasa ia panggil “Ang” yang berarti “Kakak”. Hanya ketika menjelang dewasa dan tumbuh benih-benih cinta Rodiah, panggilan “Ang” lenyap dengan sendirinya, berganti dengan panggilan Hamdan saja.

Sampai saat ini Rodiah terjebak dalam sumur tanpa batas cintanya terhadap Hamdani, sampai-sampai ia merancang pernikahan dengan pemuda itu tanpa pernah terkatakan, bahkan tanggal dan harinya ia tetapkan sendiri.

Rodiah “kaedanan” sedemikian dalam –demikian istilah warga kampung- atau tergila-gila kepada Hamdani, padahal Hamdani hanyalah pemuda desa tanpa pekerjaan pasti. Apa saja dia kerjakan sepanjang menggunakan ototnya. Sampai-sampai saat ijab kabul Hamdani-Sofiah di masjid Al-Kautsar, Rodiah datang dan melabrak acara.

Perempuan itulah yang kini menatap dari kejauhan pasangan Hamdani-Sofiah yang mulai masuk ke dalam pasar, mencari kios yang menjual pakaian dalam. Ia tidak ingin wajahnya dikenali kerumunan orang, apalagi dikenali Hamdani. Ia ingin melihat dari kejauhan saja Hamdani, mengenakan “cindung” atau kerudung transparan kelir gandaria yang menutup sebagian wajahnya.

Apa sesungguhnya hasrat terpendam dari seorang Rodiah? Tidak seorangpun tahu kecuali dirinya sendiri.

Nyimas Hindun, pemilik pakaian pakaian paham betul siapa orang yang kini berdiri di depan lapaknya itu. Ia telah lama mendengar cerita adanya pemuda kampung yang menikahi perempuan sinting yang lebih pantas sebagai kakaknya akibat beda usia yang cukup jauh untuk ukuran warga desa. Tetapi, baru kali ini janda beranak satu itu melihat sosok Hamdani yang demikian rikuh di depannya.

“Emhhh… maaf, Nyimas… apakah kau bisa memilihkan cangcut dan kutang buat Sofiah ini?” tanya Hamdani tanpa berani menyentuh barang-barang yang barusan ia sebutkan, padahal barang-barang itu terpuruk di atas lapak dengan alas kain terpal.

“Oh ya baik, kau butuh yang ukuran berapa, Dik?” Nyimas Hindun balik beratnya.

“Wah, mana kutahu itu, Nyimas, kira-kira yang pas sajalah buatnya,” jawab Hamdani seraya melirik perempuan yang berdiri di sampingnya. Kali ini Sofiah tampak lebih tenang, meski tidak ada reaksi apapun saat Nyimas Hindun mulai memilih-milih pakaian dalam perempuan yang diminta Hamdani.

“Nah, kurasa ini pas buatnya, Dik,” kata pedagang pakaian dalam itu. “Kau mau beli berapa?”

“Dua pasang saja sepertinya, maksudku…. dua cangcut dan dua kutang.”

Dengan cekatan Nyimas Hindun membungkus pakaian dalam yang diminta Hamdani. Akan tetapi, Hamdani melihat ada yang aneh…

“Nyimas, yang kuminta dua pasang saja, kulihat kau memberiku tiga pasang cangcut dan kutang?”

“Begini, Dik, yang sepasang kuberi cuma-cuma,” katanya, “kau bayar seharga dua pasang saja… anggaplah ini penghargaan yang tak seberapa buat pengorbanan cinta seorang laki-laki sepertimu kepada seorang perempuan sakit ingatan.”

“Aku tidak minta dikasihani, Nyimas…”

“Ini bukan belas kasihan,” kata Nyimas Hindun seraya menyerahkan barang yang sudah terbungkus kertas koran. Hamdani segera menyerahkan selembar rupiah warna merah dan masih mendapat uang pengembalian. “Ini lebih penghargaan, meski tentu saja nilainya tidak seberapa…”

“Ah, kau begitu baik hati, Nyimas, terima kasih…”

Beranjak dari lapak pakaian, Hamdani pergi menuju kios beras. Dia sangat butuh makanan pokok itu setelah sekian lama hanya makan ubi jalar dan singkong. Penjual beras adalah seorang lelaki yang usianya beranjak senja. Mang Iing namanya, yang pada masa jayanya dulu pernah punya “huller” atau penggilingan mesin padi.

Hamdani segera membeli tujuh liter beras kualitas sedang untuk persediaan, tetapi Mang Iing memberinya sepuluh liter beras kualitas terbaik, Rojolele.

“Aku tidak perlu beras yang mahal, Mang, cukup beras IR 64 saja, lagi pula yang kupesan cukup tujuh liter saja, bukan sepuluh liter,” kata Hamdani mengoreksi pembeliannya.

“Begini, Hamdani,” kata penjual beras itu. “Mamang sudah mendengar cerita orang-orang tentang ketulusanmu mengurus seorang perempuan edan dengan segenap cintamu. Dulu Mamang pernah nonton film ‘Romi dan Yuli’ yang dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman, tetapi kurasa kisah cintamu dengan Sofiah jauh lebih dahsyat.”

Hamdani sedikit tersipu dan melirik Sofiah, yang dilirik memasang wajah cemberut, mungkin sudah kecapekan. “Baiklah, tetapi apa hubungannya dengan beras yang berlebih ini, Mang?”

“Kuberikan cuma-cuma sebagai penghargaan cinta tulusmu kepadanya,” kata Mang Iing menunjuk Sofiah sekaligus memberikan beras kepada Hamdani. “Ambillah!”

Demikianlah, kepada hampir setiap lapak yang Hamdani datangi, selalu saja ada kebaikan yang ia terima. Sampai-sampai ia berpikir, jangan-jangan orang-orang yang berbaik budi itu bukan menghargai ketulusan cintanya, melainkan lebih karena rasa iba atau kasihan kepada Sofiah.

Dengan pemberian yang tak terduga itu, ia merasa sedang memperdagangkan Sofiah. Lalu apa bedannya dengan manusia kota yang pernah memperdagangkan tubuh Sofiah dalam sebuah etalase kaca di Mangga Besar?

Perang badar sedang berkecamuk hebat dalam batin Hamdani. Sejatinya Hamdani masih ingin membeli kebutuhan lainnya, akan tetapi ia urungkan niat itu.

“Teh Sofi, kita harus segera pulang ke dangau,” bisik Hamdani dengan wajah tegang dan hati masygul.

Kedua tangan Hamdani kini penuh dengan barang-barang yang tadi ia beli, sedang Sofiah menurut begitu saja ketika Hamdani mulai agak menyeret lengannya sehingga langkahnya menjadi terpontal-pontal. “Perasaanku sungguh tidak enak,” bisiknya.

Sofiah tidak bereaksi, seperti biasa.

(Bersambung)