Untuk tahap awal, terdapat sembilan wilayah desa dan kelurahan yang menjadi lokus kegiatan. Wilayah tersebut terdiri atas tiga kelurahan dan enam desa.
Menurut Ilham, program ini membawa pendekatan baru dalam perencanaan tata ruang. Penataan kota tidak hanya berorientasi pada aspek teknis, tetapi juga memperhatikan kesetaraan gender, perlindungan sosial, serta perlindungan lingkungan.
“Selama ini tata ruang lebih banyak dipahami oleh orang-orang yang mengetahui tentang tata ruang. World Bank memasukkan aspek gender, social safeguard dan environmental safeguard. Ini menjadi sesuatu yang unik,” jelasnya.
Selain itu, tata ruang ke depan diarahkan berbasis ketahanan terhadap perubahan iklim. Hal tersebut dinilai penting mengingat Banggai Laut merupakan wilayah kepulauan dan pesisir yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.
“Dengan adanya El Nino dan kondisi iklim yang kita rasakan saat ini, World Bank memasukkan aspek ketahanan iklim dalam inovasi tata ruang,” katanya.
Ilham menambahkan, program tersebut juga mengedepankan konsep pembangunan kota yang humanis dan inklusif. Perencanaan kawasan harus mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas dan masyarakat di wilayah pinggiran.
Karena itu, dalam penataan kawasan ke depan akan dipertimbangkan penyediaan jalur pejalan kaki, jalur sepeda, serta akses yang ramah bagi penyandang disabilitas.
“Bagaimana kota itu berkembang dengan humanis. Ada penyandang disabilitas dan masyarakat pinggiran. Bagaimana mereka bisa menikmati kota ke depan. Harus ada jalur sepeda, jalur pejalan kaki bagi penyandang disabilitas dan seterusnya,” pungkasnya. (Man)
Halaman : 1 2


















