Keesokan harinya, para pembawa telur tiba di Desa Tinakin, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut dan bermalam di sana. Keesokan harinya, perangkat adat Banggai memulai prosesi penjemputan telur atau Malabot Tumbe.
Di Dermaga Banggai, tetua adat dari Batui menuju Keraton Banggai untuk melapor lalu menyerahkan telur Maleo ke perangkat adat Banggai dengan berjalan kaki dari pelabuhan ke Keraton Kerajaan Banggai. Siklus Malabot Tumbe telah dilaksankan saban tahun sejak 1500an oleh masyarakat adat Batui dan Banggai. Telur-telur itu diserahkan langsung kepada pemangku adat dan keluarga Kerajaan Banggai.
“Tradisi malabot tumbe adalah upacara adat yang sakral yang didalamnya banyak mengandung pesan dan kearifan untuk diteladani,” jelas Bupati Banggai Laut Sofyan Kaepa seusai pelaksanaan ritual Malabot Tumbe di halaman Keraton Kerajaan Banggai.
Tumbe atau tumpe merupakan suatu yang pertama dan awal, dan malabot tumbe telah menjadi istilah dalam adat Banggai sebagai prosesi penerimaan Telur Maleo dari masyarakat adat Batui kepada Tomundo dan keluarga kerajaan di Banggai. “Ini telah dilaksanakan secara turun-temurun dalam kehidupan adat lokal Batui dan Banggai,” ujarnya.
Telur Maleo diletakan di Keraton Kerajaan Banggai (Purnomo Lamala/ KabarBenggawi)
Hal ini menandakan bahwa Batui dan Banggai adalah saudara. Malabot Tumbe diartikan secara sederhana sebagai titipan pesan keluarga yang mengandung ketauladanan yang sangat tinggi untuk generasi yang ada di Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.
“Masyarakat yang ada di tiga kabupaten ini sejatinya bersaudara, walaupun berpisah secara administrasi Pemerintahan,” tuturnya.
Untuk itu, kata Bupati, Manuk Mamua atau Burung Maleo dan alam pendukungnya haruslah dipelihara dan dijaga agar terus berkembang biak dan dilestarikan sepanjang masa.
“Begitupula hubungan kekeluargaan antara masyarakat yang ada di tiga Kabupaten Banggai bersaudara,” pungkasnya.
Penulis : Nomo
Editor : –
Halaman : 1 2

















