“Biayanya tidak menentu, beda tempat periksa beda biayanya, bikin bingung saja,” ungkap warga.
Selain mengeluhkan biaya rapid yang cenderung lebih mahal dari daerah lain, beberapa pendapat juga meragukan validitas hasil rapid test. Mereka beranggapan ada pola bisnis yang sedang dimainkan dibalik keharusan pelaksanaan rapid test.
“Bagimana kita mo yakin, kalu baperiksa biar cuma kurang tidur, hasilnya nanti reaktif. Baru biayanya lebih mahal dibanding daerah lain,” ujar sumber yang enggan disebut nama.
Kondisi ini sekaligus melemahkan maskapai pelayaran domestik. Sejumlah kapal yang beroperasi dirute Luwuk – Banggai untuk sementara dikabarkan beristirahat karena merugi.
“Sepertinya penumpang minim, tidak seimbang dengan operasional kapal,” tutur sumber di pelabuhan Banggai.
Kini semua pihak sedang menunggu tindak lanjut kebijakan pemerintah yang bisa menawarkan solusi. (Sbt)
Halaman : 1 2

















