Warisan yang harus dicermati dan dilestarikan karena kita sebagai pewaris, kemudian kita hadirkan di masa kini dan membawa ilmu ini kemasa depan.
“Seperti yang dikatakan Yori Antar dengan julukan pendekar nusantara Tradisi dan budaya itu bukan masa lalu tapi masa depan kita,” katanya.
Jufrin menuturkan, buku ini berisi filosofi rumah orang Banggai berupa konfigurasi susunan penempatan pada elemen struktur, elemen ruang serta pada elemen bukaan. Hal ini menjadi salah satu keunikan tersendiri dari rumah-rumah masyarakat suku lainnya yang ada di Indonesia.
Di dalam bukunya, Ia bercerita bahwa setiap rumah mian Banggai pada tahap awal, bagaimana pembangunan rumah dimulai dari menentukan kapan waktu baik untuk membangun hingga sampai pada tahap akhir yaitu kegiatan “biol” atau pindah rumah untuk menempati rumah yang telah terbangun adalah sarat yang sebaiknya dikerjakan.
Tahapan demi tahapan yang dipercaya memberikan keberkahan kepada pemilik rumah, namun ada banyak cerita- cerita tragis terjadi dalam rumah tangga yang dipercaya akibat tidak mengindahkan aturan turun temurun tersebut. Kepercayaan ini masih ada dan masih dipercaya hingga sekarang.
“Buku ini juga membahas tentang ‘Pamali’ dalam membangun rumah orang Banggai,” ucap Jufrin yang juga bekerja sebagai konsultan Arsitek.
Tutur leluhur meyebutkan bikin rumah sama dengan bikin anak ungkapan ini menjadi kata kunci penelusuran makna yang lebih dalam sehingga kita bisa “bersetubuh” dengan sukma yang terkandung dalam setiap sinonim oleh penulis yang ternyata memiliki wujud yang perlu dicermati dalam sepi untuk mendapatkan pembenaran dalam diri. ***
Editor : Nomo
Halaman : 1 2


















