Disisi lain Ia juga mengajak kolaborasi seluruh stakeholder untuk terus mengembangkan eksistensi ke Banggai-an.
“Terima kasih banyak kepada penulis, dan penanggap Pak Syarif A Uda’a dan Pak Hardan Mondika serta sesepuh Pak Ahmad Buluan yang telah hadir di beda buku ini,” ucap Alma sapaanya.

Kegiatan itu ditutup dengan closing statement oleh Jufrin yakni Ia mengibaratkan Ada sebuah roti diatas meja, dan mari ambil bagian kita masing-masing, sepotong untuk yang background Arsitek, sepotong untuk yang background Bahasa, sepotong untuk yang background Agama, sepotong untuk bagian Ekonomi, politik, seni…dan seterusnya.

“Sampai kepada teman-teman yang resah akan sejarah/budaya. Dan pada akhirnya tinggal bagian tengah dari sisa potongan roti tersebut, selanjutnya pilihannya adalah apakah torang lanjut untuk habiskan
sama-sama atau dibiarkan saja karena walapun tidak “dimakan” bagian tengah ini sudah terlihat karena torang so ambil potongan bagian dari background kita masing-masing. Hasil dari potongan yang telah torang makan tidak harus menjadi buku tapi dengan bentuk karya apa saja untuk Banggai kita dimasa depan,” jelas pria kelahiran Desa Gong-Gong itu.
Kegiatan ini dihadiri oleh Karang Taruna Kabupaten, Karang Taruna Desa Monsongan Pecinta Alam dan pegiat literasi dan budaya.
(***)
Editor : Nomo
Halaman : 1 2


















