Tidak hanya keberadaan pabrikan saja yang tumbuh dengan berkembangnya ekosistem kendaraan listrik. Perusahaan pelat merah, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam melihat peluang lain dari berkembangnya bisnis kendaraan listrik.
Mereka pun berencana membangun industrial park untuk pengembangan ekosistem baterai. Target industrial park itu dapat terealisasi pada 2025. Industrial park yang dimaksud adalah smelter nikel dengan high pressure acid leaching (HPAL) dan rotary kiln electric furnace (RKEF).
Direktur Utama Antam Nico Kanter mengatakan bahwa pihaknya merupakan bagian yang berada di hulu dalam konsorsium pengembangan baterai yang dilakukan Contemporary Amperex Technology Co. (CATL), sehingga pembangunan smelter dengan teknologi pembakaran nikel (RKEF) dan HPAL di dalam negeri harus dilakukan segera.
Teknologi HPAL (High Pressure Acid Leaching) merupakan pengolahan dan pemurnian nikel limonit dengan melarutkannya dalam wadah bertekanan atau suhu tinggi (autoclave) dan selanjutnya dilakukan proses ekstraksi dari larutan konsentrat untuk mendapat mineral yang lebih murni, yaitu nikel dan kobalt
“CATL punya konsorsiumnya, tahun depan itu di industrial parknya kami harus bangun [smelter] RKEF dan HPAL,” tambahnya.
Fasilitas itu bakal dibangun dengan mengedepankan konsep Environmental, Social, and Governance atau ESG. Salah satunya adalah rencana penggunaan gas sebagai energi yang akan dipakai pada smelter HPAL.
“Untuk HPAL mungkin 60 MW-nya akan pakai gas, tapi masih harus di-FS [feasibility study] soal keekonomiannya, tapi proyeknya tidak berkurang, kami mau green nickel karena tuntutan ESG sebuah keharusan,” ujarnya.
Sementara itu, pabrik baterai mobil listrik yang dibangun oleh Hyundai dengan menggandeng LG Energy Solution Ltd. bakal beroperasi pada April 2024. Fasilitas itu telah menelan investasi senilai Rp21,7 triliun.
Berkaitan dengan itu, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan kongsi Hyundai-LG akan meresmikan pabrik baterai dengan kapasitas terpasang 10 gigawatt hour (GWh) pada bulan depan.
Pembangunan pabrik bahkan diklaim sudah memasuki tahap untuk penambahan 10 GWh. Adapun, LG belakangan juga menunjukan komitmen mereka untuk menambah kapasitas terpasang produksi baterai EV di Karawang sebanyak 20 GWh, dari kapasitas terpasang. ***


















