Begitupun Mira Wati (12) yang mesti membantu kerja apa saja mulai dari menjual cabai sisa panen di ladang saudaranya hingga membantu petik dan semai biji Kakao dengan upah Rp200 ribu – Rp300 ribu per bulan.
Meski menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya, Marni tidak pernah sekalipun mengemis meminta kepedulian dari saudara atau warga lainnya untuk meringankan beban mereka.
Bertemu Mensos Risma
Kisah nestapa Marni dan keluarganya, terdengar sampai ke Menteri Sosial Tri Rismaharini. Itu lantaran kehidupan pilu Marni tersiar melalui laporan dari para pegiat media sosial.
Risma secara khusus menemui Marni. Semua perangkat desa, petugas dinas sosial daerah setempat mendadak berdatangan mempersiapkan kunjungan Menteri Sosial itu ke Bumi Batetangnga, pada 2 Juli 2024.
Kepala Desa Batetangnga Sumailah Damang datang membawa kabar gembira, ada satu unit rumah yang disiapkan untuk Marni yang berjarak 200 meter dari gubuknya .
Ternyata hal ini pula yang membuat Marni untuk pertama kalinya dipanggil oleh Kepala Desa, dua hari sebelumnya, untuk membuat berkas administrasi kependudukan setelah pulang dari perantauan untuk diverifikasi dengan alamat baru.
Rumah bata dengan dua kamar yang berukuran 6×10 meter persegi dengan luas lahan 320 meter persegi itu sudah dibeli secara kontan senilai Rp130 juta oleh Kementerian Sosial.
Rumah tersebut sudah bisa langsung dihuni keluarga Marni, lengkap dengan listrik, panel surya berdaya 100 watt, alat pertanian, ayam ternak dan bibit ikan lele yang siap dikembangbiakkan.
Ucapan rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah peduli menyuarakan getirnya kehidupan Marni, menjadi kalimat yang terus diungkapkan Menteri Sosial dalam kunjungannya.
Mensos menjamin setiap data keluarga miskin yang diajukan dari pemerintah daerah tersebut akan diproses menjadi peserta penerima manfaat program PKH. Asalkan data calon peserta yang diajukan itu valid sudah sesuai prosedur dan ketetapan seperti byname-byaddress. Paling tidak pada Juli-Agustus tahun ini 1.898 keluarga miskin tersebut sudah harus terdata untuk kemudian masuk sebagai peserta KPM.
Kini kehidupan Marni dan anak-anaknya menatap masa depan yang lebih baik. ***

















