Gandeng Peniliti untuk Riset Banggai Cardinal Fish

“Infrastruktur penelitian terlaksana kita langsung buatkan Perdanya,”

BANGGAI, KABAR BENGGAWI – Meski Banggai Cardinal Fish atau BCF masuk dalam maskot ikan hias nasional yang telah tertuang pada keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 tahun 2021 namun hingga saat ini kepemilikan BCF masih manjadi topik hangat di Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut.

Upaya melakukan perlindungan BCF terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Banggai Laut. Dibawah komando Kepala Dinas Perikanan Banggai Laut Balsam Sarikaya yang telah berkomunikasi dengan peneliti dari Universitas Tadulako Palu, layak mendapat apresiasi. Dengan kemampuannya yang mumpuni Balsam berhasil meyakinkan Dr. Samlok Ndobe untuk melakukan riset BCF di Banggai Laut.

Balsam mengatakan, penelitian tentang endemik asli Banggai Laut itu akan dilakukan dibeberapa tempat di Banggai dan untuk dana penilitian langsung mendapat dari Kementerian Riset dan Teknologi.

“Kita fasilitasi Dr. Samlok untuk ketemu dengan Pak Bupati terkait riset BCF ini dan Pak Bupati langsung setuju,” jelas Balsam saat ditemui di kawasan pasar baru, Kamis (7/10/2021).

Banggai Cardinal Fish (dok.KKP)

 

Sementara itu Bupati Sofyan Kaepa menjelaskan, meski Kementerian Perikanan dan Kelautan tidak mengspesifikasi BCF miliknya Banggai Laut, Banggai Kepulauan ataupun Banggai, Namun dengan adanya riset ini kata Bupati menjadi keberuntungan sendiri bagi Banggai Laut.

“Ketika infrastruktur penelitian terlaksana kita langsung buatkan Perdanya,” ujar Bupati Sofyan.

Disisi lain, bukan malang melintang budidaya BCF telah lama dikembangkan diberbagai daerah di Indonesia bahkan hingga dieskpor ke Luar Negeri.

Daerah penyebaran BCF sangat terbatas dan pada awalnya hanya ditemukan di wilayah Sulawesi Tengah bagian Timur, tepatnya di Kepulauan Banggai, karena itu spesies ini termasuk endemik. Namun demikian saat ini berbagai informasi menyebutkan ikan yang memiliki nama latin Pterapogon kauderni ini telah dapat ditemukan di lokasi lain yaitu perairan Bitung, Ambon, Kendari, Teluk Palu dan Gilimanuk Bali. Selain itu kini BCF juga telah dapat dibudidayakan di BPBL Ambon dan LINI Bali.

Baca juga :  Surat DPRD Terkait Penundaan Pilkades Viral di Sosmed, Ini Jawaban Ketua DPRD

Infografis pembudidayaan BCF

Data yang ada kata Balsam hanya sebatas sebaran di Kabupaten Banggai Laut, Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai. “Cuman siapa yang punya belum ada,” tuturnya.

Balsam mengakui ada perbedaan BCF yang tersebar di Banggai Laut dan tempat lain. BCF yang tersebar di Banggai Laut memiliki corak sirip berwarna perak-perak dan warna hitam gelap. “Karena habitat aslinya di sini,” ucapnya.

Meski demikian, Kepala Kantor Kementerian Hukum  dan HAM Sulawesi Tengah Lilik Sujadi telah mengingatkan agar ikan capungan Banggai didaftarkan agar mendapat perlindungan dari sisi indikasi geografis. “Jangan sampai nanti, ikan cardinal karena lama tidak didaftarkan, diklaim oleh daerah lain dan saat memiliki nilai ekonomi maka uangnya, hasilnya tidak bisa ditarik karena kita perlu izin dari hak klaim misalnya,” kata dia.

Peneliti Indikasi Geografis Ilham Potimbang, menjelaskan Indikasi Geografis boleh diajukan oleh kelompok masyarakat dan Pemerintah setempat juga bisa mengajukan dengan membentuk kelempoknya sendiri. “Pemerintah daerah boleh saja melakukan pengajuan Indikasi Geografis,” katanya.

Ilham mengungkapkan, perlindungan Indikasi Geografis BCF harus segara cepat diselesaikan sebelum daerah lain melakukan pengajuan yang sama ke Kemenkumham. “Kalau di Sulawesi Tengah perlindungan Indikasi Geografis baru Sidat Marmorata atau Sidat Poso, untuk Ubi Banggai sementara diproses,” pungkasnya. NOMO

error: Content Kami Lindungi !!!