BANGGAI, KABAR BENGGAWI – Pencapaian target pembangunan kesehatan melalui upaya percepatan penurunan stunting merupakan salah satu investasi utama dalam mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi, hal itu diungkapkan Sekretaris BKKBN Sulteng Irmawati pada Bimtek strategi percepatan penurunan stunting bagi mitra konvergensi dan optimalisasi SIPASTI di gedung Labotan Sosodek, Kamis (15/6/2023).
Ia mengatakan, berdasarkan Perpres 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting dalam rangka mencapai target RPJMN tahun 2024 prevalensi stunting menjadi 14% dengan fokus penanganan dengan intervensi spesifik dan sensitif yang berfokus pada sasaran calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas dan balita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pemenuhan kebutuhan asupan gizi pada semua sasaran menjadi faktor penting dalam penanganan stunting,” jelasnya
Hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, ujar dia, prevalensi stunting di Sulawesi Tengah adalah 28,2% mengalami penurunan sebanyak 1,5% dari hasil SSGI tahun 2021 yaitu 29,7%.
“Untuk Banggai Laut, mengalami penurunan prevalensi stunting sejumlah 6,1% dimana berdasarkan data SSGI dari Tahun 2021 hanya 26,1% dan di Tahun 2022 menjadi 20,0 %,” kata dia.

Disisi lain, kegiatan BIMTEK dan sistem informasi pelaporan terpadu (SIPASTI) satgas seluruh Indonesia output yang wajib dihasilkan adalah laporan dan rencana kerja TPPS di kecamatan.
“Dalam rangka PPS telah terbentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting yang selanjutnya disingkat menjadi TPPS. TPPS terbentuk dari tingkat pusat sampai dengan tingkat desa, yang berfungsi mengkoordinasikan dan memastikan pelaksanaan PPS dapat terealisasi untuk mencapai target penurunan stunting di tingkat kabupaten dan kota,” ucapnya.

Halaman : 1 2 Selanjutnya

















