Kini, dengan berdirinya gardu induk dan jaringan transmisi baru, Morowali tak lagi menghadapi keterbatasan listrik. Infrastruktur strategis ini akan menopang industri dan rumah tangga, serta memperkuat sistem kelistrikan Sulawesi Tengah yang 70 persennya bersumber dari energi terbarukan PLTA Poso.
Meski demikian, Gubernur Anwar Hafid menegaskan perjuangan belum selesai. Ia mengungkapkan masih ada 85 desa di Sulawesi Tengah yang belum teraliri listrik, termasuk 28 desa di Morowali yang sebagian besar berada di pulau-pulau. “Berani Menyala berarti kita tidak boleh membiarkan satu pun rakyat hidup dalam gelap. Ke depan, saya ingin pulau-pulau ini bisa memanfaatkan tenaga surya sehingga benar-benar mandiri energi,” tekadnya.
General Manager PLN UIP Sulawesi, Wisnu Kuntjoro Adi, menegaskan bahwa PLN berkomitmen mendukung langkah Gubernur Anwar Hafid dalam mempercepat pemerataan listrik.
“Tantangan PLN sangat besar, termasuk membangun tambahan jaringan dan gardu di Morowali dalam tiga tahun ke depan. Tetapi kami yakin, dengan dukungan penuh Bapak Gubernur dan seluruh pihak, target ini akan tercapai. PLN hadir bukan hanya untuk melayani industri, tapi juga untuk menghadirkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Wisnu.
Peresmian ini semakin istimewa karena berlangsung hanya dua hari setelah perayaan HUT RI ke-80. Bagi Anwar Hafid, cahaya listrik di Morowali adalah simbol kemerdekaan yang nyata. “Saya sangat terharu, karena apa yang saya perjuangkan sejak menjadi bupati, hari ini bisa saya resmikan sebagai gubernur. Saya memulai, dan saya pula yang mengakhiri. Ini hadiah untuk rakyat,” pungkasnya.
Acara peresmian turut dihadiri Kepala Kejati Sulteng Rahmat, Bupati Morowali Iksan Baharudin, Wakil Bupati Irian Ilyas, Forkopimda Sulawesi Tengah dan Morowali, serta tokoh masyarakat setempat. *
Halaman : 1 2


















