BANGGAI, KABAR BENGGAWI – Berawal dari ekspresi keresahan pergolakan dari dalam diri Jufrin H Jalaman untuk mencari jati diri ke-Banggai-an dan krisis identitas yang terjadi saat ini terhadap anak muda Banggai terkhusus pada tataran Arsitektural, munculah skeptis dalam diri tentang bagaimana masa depan Banggai kedepan akhirnya lahirlah buku yang ditulis dirinya yang berjudul Rumah Orang Banggai, (Bikin Rumah = Bikin Anak).
Ia mengatakan, jikalau tanpa identitas arsitektur lokal yang dapat dicerna dan dijadikan preseden dalam bentuk narasi guna pergulatan akademis dan bisa diterima sebagai tambahan kekayaan literasi Banggai maka yang terjadi arsitektur tanpa makna.
“Mempelajari ilmu orang-orang tua bukan menjadi sebuah kemunduran dalam cara berfikir, melainkan nirwana yang harus kita timba guna meneruskan ingatan semiotik yang permanen,” kata dia kepada KabarBenggawi di Gedung Ali Hamid, Selasa (13/9/2022)
Jufrin menuturkan, Ilmu leluhur terkumpul dari apa yang disebut Kosmos, materi-materi lingkup makrokosmos memahami gejala semesta dan mikrokosmos perihal mulai dari mengamati tubuh manusia sebagai subject utama dalam wujud tiga dimensional.
Sampul buku Rumah Orang Banggai (Ist)
Bahasa leluhur adalah bahasa kemanusiaan yang bermartabat, mengatur norma kehidupan dan tatakrama, integrasi terapan kedalam bahasa modern adalah relevansi tepat guna berdasarkan pada gejolak zaman sekarang ini, begitu banyak dispensasi dari anak muda yang sedang dilanda kirisis moral dan krisis identitas.
“Maka dari itu marilah kita nikmati semangat muda dengan penuh percaya diri dan tanggung jawab terhadap warisan luhur ke-Banggai-an, karena ini pasti akan menjadi tuntutan dari generasi masa depan,” tutur Alumni Universitas Teknologi Yogyakarta tersebut.
Penulis Buku Rumah Orang Banggai Jufrin H. Jalaman (Nomo/KabarBenggawi)
Menurutnya, Arsitektur adalah ungkapan diri yang tidak hanya membahas masalah teknis belaka, tetapi berkecimpung dalam dunia makna yang mendalam. Kadang-kadang dalam proses menggali konsep sebuah gagasan bangunan, kita akan menemukan sesuatu yang tersembunyi dari yang tersembunyi.
“Ini sebagai bentuk keresahan yang bukan hanya bergumul untuk melestarikan rumah Banggai-nya saja, tapi ilmunya. Ilmu yang harus kita pelajari dari kehidupan dan cara pandang leluhur dalam menyikapi keyakinan yang menjadi kebenaran,” ungkap penyandang gelar Sarjana Arsitektur tersebut.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


















