Kegagalan dalam memandang pendidikan tak bisa dilepaskan dari paradigma penerapan kapitalisme sekularisme. Sistem yang menjadi dalang dari problematika pendidikan hari ini. Pendidikan hanya dijadikan sarana transfer ilmu yang bernuansa pada pencapaian persaingan global sehingga makin meningkatkan kualitas pasar modal, ujung-ujungnya meraih keuntungan. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini mampu menumbuh suburkan kebijakan tanpa ada garis merah. Segala kebijakan dipandang boleh atas dasar spekulatif manusia. Inilah yang menjadikan pendidikan hari ini gagal moral dan cenderung mementingkan diri sendiri. Mirisnya, kegagalan sistem hari ini masih dilestarikan dan terus dipertahankan. Oleh karena itu, umat tidak boleh bersikap abai dengan kondisi pendidikan saat ini.
Berkaca pada Islam, kondisi ini tentu berbeda dengan sistem kapitalisme sekularisme. Hal tersebut pernah dipraktikkan pada masa kejayaan Islam dalam kurun waktu 14 abad. Kejayaan Islam terjadi pada masa berdirinya khilafah, negara yang menerapkan sistem pemerintahan Islam. Khilafah membidik pemuda dengan pendidikan berbasis Islam hingga tepat sasaran dan mampu menciptakan peradaban gemilang yang sering disebut zaman keemasan.
Kurikulum pendidkan Islam senantiasa berasaskan akidah Islam, bukan yang lain. Asas akidah Islam menghantarkan pendidikan untuk membentuk kepribadian yang islami dengan merubah pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam. Dengan berasakan akidah Islam, bukan berarti khilafah melupakan pendidikan sains dan terapan. Pendidikan ilmu sains dan terapan akan disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan peserta didik. Khilafah tidak menggunakan pendidikan untuk mencapai keuntungan, apalagi memprioritaskan pendidikan hanya untuk pencapaian qualiti negara dipandangan global, dibandingkan meningkatkan kepribadian peserta didik.
Khilafah memahami bahwa negara memiliki kewajiban dalam membiayai pendidikan bagi seluruh rakyat. Memastikan tidak ada yang kesulitan dalam menempuh pendidikan, kesiapan dan ketepatan negara sangatlah dibutuhkan. Maka biaya pendidikan dalam khilafah tidak melejit mahal layaknya hari ini. Pembiayaan pendidikan menjadi urusan negara dalam menyediakan sarana dan prasarana pendidikan berkualitas serta membayar gaji para pendidik dengan harga yang tinggi.
Ketersediaan pendidikan berkualitas, gratis dan memadai tak dapat dipisahkan dari keberhasilan negara dalam mengelola ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat dari terbentuknya lembaga pengelolaan keuangan negara yang disebut baitul mal. Di dalam baitul mal terdapat tata kelola yang terstruktur dan akurat. Baitul mal memiliki sumber pendapatan dan ketepatan dari sumber pengeluaran yang akan diberikan kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan. Baitul mal akan dimanfaatkan khilafah dalam membiayai pendidikan. Sumber baitul mal yang dimanfaatkan berasal dari harta kepemilikan umum yang di operasionalkan demi kepentingan seluruh elemen masyarakat. Selain itu, pengelolaan ekonomi khilafah yang jauh dari sistem ribawi mampu meningkatkan perekonomian.
Keterhambatan pendidikan biasanya terjadi karena biaya pendidikan yang terpaut mahal. Khilafah tidak akan membiarkan masyarakat tertinggal dalam penguasaan ilmu sains dan terapan apalagi tidak adanya pendidikan berbasis aqidah. Sehingga, khilafah berhasil menyediakan pendidikan gratis dan memadai yang mampu menciptakan generasi berpendidikan dan berakhlak moral yang baik sesuai dengan tuntutan aqidah. Oleh karena itu, tidak hanya kemajuan sains dan teknologi semata tetapi juga kemajuan taraf berpikir masyarakat, persaingan akan mudah dilakukan.(*)
Halaman : 1 2

















