“Kita juga harus mengantisipasi teknologi di dunia kesehatan, ini juga hati-hati di dunia kesehatan. Healthtech akan semakin berkembang dengan pesatnya. Lebih dari sekadar pemeriksaan atau konsultasi medis jarak jauh, tapi juga pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk diagnosis, untuk pelaksanaan pengobatan, untuk precision medicine, hingga tindakan operasi jarak jauh. Segera ini akan bisa dilakukan di mana pun,” terangnya.
Begitu pula di bidang pendidikan, pandemi juga mengakselerasi penerapan edutech di mana pembelajaran jarak jauh menjadi sebuah kebutuhan. “Layanan pendidikan berbasis daring muncul di mana-mana, akses pembelajaran dapat diperoleh dari berbagai sumber. Peran guru dan sekolah lebih sebagai fasilitator pendidikan untuk memfasilitasi merdeka belajar dari anak didiknya,” ujar Kepala Negara.
Perkembangan-perkembangan iptek yang berlangsung cepat ini, lanjut Presiden, harus diantisipasi perencanaannya. “Harus responsif terhadap disrupsi yang membuat dunia berubah sangat cepat, harus responsif terhadap tantangan dan peluang yang muncul secara cepat yang sering tidak kita duga, harus responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tandasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Presiden menekankan agar belanja teknologi yang dilakukan harus memberikan manfaat yang jelas bagi publik. “Belanja teknologi harus diperlakukan sebagai belanja investasi, kita garis bawahi ini. Harus jelas manfaatnya terutama manfaat publik, manfaat bagi masyarakat dan negara,” tegasnya.
Tak hanya itu, Kepala Negara juga meminta agar belanja tersebut dapat memberikan kontribusi pada pengembangan teknologi di dalam negeri. “Harus dihitung efisiensinya, harus dihitung kontribusinya untuk pengembangan teknologi di dalam negeri, harus dihitung return on investment-nya, sehingga bisa berkelanjutan terus,” tandas Kepala Negara. (DND/UN


















