Sastra

CERPEN | Perempuan Penyapu Halaman [12]

Oleh : Pepih Nugraha

SIANG itu perkuliahan Psikologi Terapan sudah usai, sebuah mata kuliah berupa penggunaan metoda psikologi untuk memecahkan masalah praktis dari prilaku dan pengalaman manusia.

Hampir seluruh mahasiswa sudah ngacir memburu pintu keluar sesaat setelah dosen menyatakan kuliah hari ini dinyatakan usai, kecuali seorang mahasiswi.

Dianti.

Mahasiswi ini sengaja membelakangkan diri berada di ruang kuliah, bahkan duduk sendiri di kursi tengah, sampai seluruh mahasiswa benar-benar tak bersisa.

“Kamu kok belum pulang, Nona?” tanya Satrio, dosen yang baru tiga bulan lalu menyelesaikan program doktoralnya di Amerika Serikat saat membereskan risalah materi perkuliahannya.

“Sebagaimana yang saya tulis di pesan WA tempo hari, saya ingin diskusi untuk sebuah persoalan psikologi,” kata si mahasiswi.

“Oh ya, sayalah Dianti, penulis pesan itu, maaf sebelumnya kalau mengganggu Bapak.”

Satrio turun dari podium, berjalan mendekat si mahasiswi melalui deretan bangku depan yang kini sudah kosong. Dosen itu kini sudah berada persis di depannya. “Ah, kau ini Dianti rupanya.”

“Ya, Pak,” jawab Dianti. “Saya tahu persis Bapak, tetapi Bapak belum tentu tahu satu persatu mahasiswanya, bukan? Untuk itulah saya memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan keinginan untuk dialog khusus jika Bapak berkenan.”

“Jadi, apa persoalanmu, Dianti?”

“Tentang kasus percintaan, Pak,” jawab Dianti sambil menyempurnakan letak kacamata minus duanya, “Percintaan yang menurut saya bukan cinta biasa.”

Satrio mengunyah kata-kata si mahasiswi sebelum angkat bicara, “Ah, seperti judul lagu saja, Dianti, jangan-hangan kamu ini sedang jatuh cinta, lalu tiba-tiba ingin berdiskusi tentang masalah itu.”

“Saya sudah terlalu sering jatuh cinta, Pak, bahkan sudah bonyok,” kelakar Dianti yang menyambar tawa dosen “killer”-nya itu.

“Kalau begitu, ceritakanlah lebih detail….!!”

Dianti kemudian menceritakan pengalalaman faktual tentang adanya pernikahan “yang tak biasa” di sebuah desa buah dari “cinta yang tak biasa” juga, yaitu pernikahan Hamdani dan Sofiah yang ia saksikan beberapa waktu lalu. Dianti mengaku hadir di masjid Al-Kautsar, tempat ijab kabul pernikahan dilakukan, meski sekadar menjadi salah satu pengunjung saat kuliah kerja nyata.

Dianti juga bercerita tentang betapa senjangnya usia antara Hamdani dengan Sofiah yang lebih pantas menjadi kakaknya itu. Terlebih lagi, mengapa Hamdani sedemikian mencintai Sofiah yang jelas-jelas punya masa lalu yang kelam, bahkan sempat terperangkap di dunia hitam.

Lebih dari itu semua, Dianti menegaskan bahwa Sofiah adalah perempuan muda yang sedang menderita sakit jiwa.

“Jadi apanya yang aneh?” tanya Satrio dengan tatapan elangnya, tatapan yang kini penuh gugatan.

“Cinta itu, Pak,” jawab Dianti cepat, “ini semua tentang cinta.”

“Semua orang punya cinta, termasuk Hamdani yang kamu ceritakan itu, apa anehnya?”

“Tetapi ini bukan cinta biasa, Pak!”

“Jadi maksudmu ini cinta luar biasa?” gugat Satrio masih menancapkan tatapan elangnya. Jelas, ia terpancing dan semakin ingin meladeni si mahasiswi. “Apanya yang luar biasa?”

“Pengorbanannya, Pak,” sambar Dianti, “pengorbanan yang luar biasa!”

“Nah, kau harus mencari dan menemukan parameter ‘pengorbanan yang luar biasa’ itu apa sebelum benar-benar memahami cinta yang tidak biasa pemuda itu!” kata Satrio.

Hening sejenak sebelum dosen bergelar Doktor itu melanjutkan, “Kamu paham tentang Oedipus Complex, bukan?”

“Paham, Pak,” jawab Dianti. “Lelaki yang menderita sindroma –kalau boleh saya istilahkan begitu- yang mencari pasangan perempuan sebagaimana sosok ibunya, bila perlu seperti fotokopi ibunda sendiri. Artinya, ada kedekatan antara si anak laki-laki itu dengan ibunya yang mungkin punya sifat mengayomi, melindungi, cantik, ‘moederlijk’ atau keibuan.”

“Bukankah itu yang terjadi pada Hamdani dengan ibunya?”

“Kebalikannya,” sambar Dianti cepat. “Ibunya justru sangat jahat –kalau boleh saya bilang begitu- kepada anak lakinya sendiri, ya Hamdani itu. Saya pastikan dia bukanlah patron Hamdani.”

“Bagaimana kau tahu ibunya itu seorang yang jahat?”

“Saya menguntit sampai ke rumah orangtua Hamdani, khususnya menyaksikan bagaimana Sumiati, ibunya itu, marah besar sampai mengusir Hamdani saat anaknya membawa Sofiah ke rumah sehabis melangsungkan pernikahan.”

“Begitukah?”

“Ya,” jawab Dianti cepat, “Semarah-marahnya seorang ibu kepada anak lelakinya, tidak mungkin dia sampai mengusir tanpa belas kasih.”

“Jelas saja Ibu Sumiati kecewa mendapat mantu perempuan gila, Dianti!” kata Satrio lagi, “Saya pikir ini tidak bisa dijadikan ukuran, bisa saja situasional atau bahkan mungkin perkecualian.”

“Bagaimana kalau saya nanti meruntuhkan anggapan tentang Oedipus Complex yang selama ini dipahami orang, khususnya orang-orang psikologi,” kata Dianti, “bahwa tidak selamanya kaum pria yang menikahi perempuan yang terpaut jauh usia karena mencintai sosok ibunya.”

“Dianti, cinta itu tidak memandang usia,” kata Satrio. “Beda usia bukan masalah, lakinya yang lebih tua dari perempuannya atau sebaliknya, perempuannya yang lebih tua dari lakinya. Tidak ada yang aneh dari peristiwa percintaan Hamdani-Sofiah ini, biasa saja.”

“Jadi asumsi saya ini patah dengan sendirinya, Pak?”

“Bukan begitu,” balas Satrio. “Mungkin lebih tepat kalau kamu memandang dan menelah cinta Hamdani-Sofiah dari sisi filsafat sebagaimana tertulis dalam buku ‘The art of Loving’-nya Erich Fromm, lebih ke arah seni mencintai, begitu…”

“Tetapi saya mahasiswi psikologi, Pak, bukan mahasiswi filsafat!”

“Saya lebih tertarik dari sisi kebahasaannya, Dianti,” kata Satrio.

“Dalam bahasa Indonesia ada penghalusan kata ‘orang gila’ dengan sebutan ‘orang sakit jiwa’. Artinya apa, orang Indonesia masih menganggap tidak ada sakit yang tidak bisa disembuhkan. Jadi masih ada harapan untuk disembuhkan.”

“Maksud Bapak?”

“Boleh jadi motivasi Hamdani menikahi perempuan sinting itu bukan didorong oleh cinta yang membara mengalahkan Laila Majnun, lebih karena dorongan untuk menyembuhkannya, bahwa orang sakit jiwa masih bisa disembuhkan.”

“Bukankah motif ingin menyembuhkan orang yang sakit jiwa ini karena dilatarbelakangi cinta juga, Pak.”

“Belum tentu,” sambar Satrio. “Bisa jadi karena menaruh kasihan, karena kemanusiaan, atau dalam konteks agama ingin mendapat pahala, misalnya, siapa tahu….”

Hening sejenak, mulut Dianti terkunci kehabisan kata-kata.

“Tidak bisa kamu tarik kesimpulan serampangan hanya dari satu contoh kasus saja, harus ada kasus-kasus lainnya yang sebangun dan serupa kalau itu akan kamu jadikan skripsi,” kata Satrio siap-siap mengakhiri perdebatan. “Kalau saya selain dari kebahasaan, malah lebih tertarik kepada Sofiah itu, kok bisa-bisanya dia menjadi gila hanya karena dikecewakan sejumlah laki-laki.”

“Kalau Sofiah itu urusan psikiater, Pak,” kata Dianti. “Bagi saya, soal keputusan dan cinta seorang Hamdani adalah masalah psikologi, saya ingin tahu lebih jauh apa yang melatarbelakanginya.”

Percakapan keduanya buntu. Satrio siap-siap pergi, sedangkan Dianti pun sudah berdiri dan mohon pamit untuk pergi lebih dahulu. Ketika Dianti sudah diambang pintu keluar, Satrio memanggil namanya.

“Dianti…,” katanya. “Segera kamu temui Hamdani dan Sofiah untuk mengetahui motif cinta mereka!”

Mahasiswi psikologi inilah yang pada sepagi ini sudah berada di dangau.

Menemui Hamdani dan Sofiah.

(Bersambung)