Sastra

CERPEN : Perempuan Penyapu Halaman [18]

Oleh: Pepih Nugraha

JARAK yang memisahkan antara Hamdani dengan rumah orangtuanya, Sopandi dan Sumiati tinggal sepelemparan batu saja. Ada keraguan yang menekan diri Hamdani sesaat melihat rumah panggung yang sebagian bangunannya terhalang gerumbul pohon nangka di sekelilingnya.

Terbersit niatan untuk berbalik arah. Tetapi ketika ia merogoh saku dan mengeluarkan lima lembar rupiah berwarna merah, terbayang kembali niat bakti seorang anak kepada emaknya. Bagaimanapun perangai emaknya, emak tetaplah emak.

Keyakinan itulah yang membuat Hamdani meneruskan langkahnya. Kini ia tidak lagi menuntun Sofiah, melainkan mengiringinya dari belakang, sedangkan Sofiah sesekali berjoget dangdut koplo kesukaannya di depan, kebiasaan yang belum hilang dan tak pernah Hamdani harapkan.

Berpuluh-puluh pasang mata melirik pasangan itu seolah-olah tanpa berkedip, seperti tidak ingin melewatkan peristiwan yang akan terjadi kemudian.

Bagaimanapun, Hamdani adalah pemuda yang dikenal suka bergaul, sehingga mudah dikenal para tetangganya meski ia telah menghilang berbilang purnama. Maka saat ia melakukan perbuatan yang mereka anggap di luar nalar warga desa pada umumnya, tatapan mereka pun langsung mengarah padanya.

“Teruslah jalan, Teh Sofi, sebentar lagi,” bujuk Hamdani saat Sofiah terlihat kecapekan dan menghentikan langkahnya. Dadanya turun-naik, terengah-engah, pertanda kehabisan tenaga. “Nah, itu rumah emak sudah terlihat!”

Akan tetapi, Sofiah bergeming. Kedua kakinya seolah-olah terpaku di tanah kering. Kali ini bola matanya menatap Hamdani di sampingnya, seperti meminta pendapat. Hamdani menangkapnya sebagai keraguan.

“Ayolah, jangan takut, Teh…. Emak tidak sekejam dulu saat mengusir kita berdua,” Hamdani menenangkan. Sofiah tetap terdiam. Ia kemudian menuntun Sofiah ke pinggir jalan, di bawah pohon sukun yang tumbuh sembarang di situ.

Sesaat kemudian ia mengeluarkan botol minuman berisi teh pahit dan memberikannya kepada Sofiah. Perempuan itu menolak, menepis keras botol minuman plastik itu sampai jatuh. Hamdani memungutnya. Apakah aku harus mengurungkan niatku menemui emak, batinnya melihat perubahan Sofiah yang tiba-tiba.

Hamdani percaya, perubahan sikap Sofiah yang tiba-tiba itu merupakan komunikasi batin antara dirinya dengan Sofiah sebagaimana yang ia lakukan selama ini. Tentu ini bukan yang pertama, tetapi Hamdani berusaha memahami dan mengerti apa yang dikehendaki Sofiah entah itu melalui tatapan, gerutuan, erangan, bahkan ringkikkan tawanya.

Belajar dari kenyataan, pada akhirnya berkomunikasi, menyampaikan pesan atau berusaha memahami pikiran dan perasaan Sofiah adalah pekerjaan yang harus ia lakoni dalam kehidupan sehari-hari di dangau itu, saat menemani Sofiah tanpa batas waktu pasti kapan semua ini akan berakhir. Jelas itu tidak mudah, pekerjaan yang memerlukan tenaga, pikiran bahkan perasaan.

Bahkan, berusaha memahami perasaan masing-masing antar orang waras melalui ucapan ataupun tindakan pun bukan perkara mudah, sering salah kira dan salah mengerti yang berbuah pertengkaran. Bisa dibayangkan, Sofiah adalah perempuan yang sakit ingatan, yang dalam keyakinan Hamdani dapat terobati dengan cara apapun, termasuk cara yang dilakukannya selama ini. Ia paham, Sofiah bukan sakit ingatan karena bawaan, melainkan karena adanya sebab yang mengakibatkan jiwanya terguncang.

Hamdani tidak ingin menelusur atau menyalahkan sebabnya itu, melainkan ia sedang menghadapi akibatnya yang dahsyat. Ia terlibat dalam akibatnya sedemikian jauh, yaitu kenyataan bahwa Sofiah menderita sakit ingatan. Ia sudah mendapatkan kenyataan itu sejak pertama Sofiah sering menyapu halaman di tengah malam, jelang dinihari. Dalam keyakinannya, Sofiah bisa sembuh kembali.

Untuk itulah, Hamdani berusaha memahami apa yang Sofiah pikirkan –kalau memang ia masih punya pikiran- dalam berbagai tindakan yang berulang-ulang maupun datang secara tiba-tiba. Bagi Hamdani, mogoknya langkah Sofiah untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah orangtuanya itu suatu pesan yang disampaikan Sofiah dalam bentuk tindakan, tanpa kata-kata. Prilaku ini datang secara tiba-tiba.

“Lihatlah, Teh Sofi, itu rumah emak-bapak, aku yakin mereka akan menerima kita sekarang, apalagi kalau melihat kamu sudah membaik. Ayolah jalan sedikit lagi!” bujuk Hamdani.

Sofiah tetap bergeming. Sekarang ia malah tidak mau berdiri dari duduk bersimpuh di bawah pohon sukun, seperti anak kecil mogok sekolah. Kain sidamuktinya terangkat cukup tinggi, memperlihatkan betis dan sebagian pahahanya yang sempurna. Tanpa Hamdani sadari, diam-diam beberapa orang mengikutinya dari belakang, entah apa yang mereka kehendaki.

Pada masa sebelumnya, Hamdani tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran orang-orang yang tiba-tiba mengiringi langkahnya, sebagaimana yang pernah ia alami saat membawa celeng hasil buruannya untuk pertama kalinya. Itulah celeng pertama dan terakhir yang ia tangkap dan dijual ke Koh Ahong.

Kini kehadiran gerombolan manusia yang menguntit di belakangnya terasa sangat menganggu ketenangannya, karenanya ia ingin menghardik mereka. Dulu terasa kehadiran mereka sangat membantu menumbuhkan keyakinannya, serasa kawan seiring.

Kombinasi antara lelah, penat, capek, putus asa dan keraguan membuat amarahnya sedikit naik dan bergolak. Tidak biasanya. Sebab, Hamdani biasa menghadapi kenyataan hidup dengan santai, apapun peristiwanya. Kali ini ia merasa tidak bisa menerima kehadiran orang-orang yang menguntit, apalagi mereka sudah mulai mencemoohnya, melecehkannya, bahkan terdengar ada yang menghinanya. Ia berusaha menekan gejolak hatinya, akan tetapi benteng ketahanan jiwanya ambrol juga.

Hamdani berdiri dan berbalik badan, kemudian melangkahkan kaki ke arah kerumunan orang-orang yang bergerombol di belakangnya. Mereka tidak berani melewati langkah beriringan dirinya dengan Sofiah, tetapi sebatas mengiringi saja dan inilah yang membuat Hamdani terganggu, tidak seperti biasanya. Tahu kalau Hamdani sedang memendam amarah, para pengiring yang mengikutinya pun menahan langkah.

“Kalian kira aku sudah ikut-ikutan gila ketularan perempuan ini sehingga pantas kalian jadikan tontotan seperti ronggeng monyet?” teriak Hamdani sambil menunjuk Sofiah yang masih bersimpuh. “Bukan begitu, wahai orang-orang Malausma!?”

Sunyi. Tidak ada yang berani bersuara. Sebagian dari mereka benar-benar balik badan, sebagian bertahan, tetapi tidak bereaksi apa-apa, menunggu apa yang akan Hamdani lakukan.

“Begini saja, daripada kalian kekurangan tontonan, bagaimana kalau aku menantang kalian berkelahi di sini!” teriak Hamdani lagi. “Majulah dua sampai tiga pemuda kemari, ayo lawan aku berkelahi, niscaya kalian akan mendapat tontonan!”

Tantangan itu tidak bersambut. Ada beberapa pemuda di antara kerumunan itu. Akan tetapi, tak satu pun di antara merteka yang berani maju, bahkan sampai tiga orang sebagaimana yang diminta Hamdani. Badan yang berotot, betis yang menyerupai pahatan kayu, dan lengan-lengan yang berotot kawat telah menciutkan nyali kerumunan itu. Satu persatu mereka balik badan, bahkan ada yang sambil lari menjauh. Mereka yakin, Hamdani sudah ketularan gila, percuma saja menghadapi orang gila.

Kerumunan itu bubar meninggalkan Sofiah dan Hamdani.

Hamdani menarik napas lega. Dengan berbagai cara, akhirnya ia berhasil membujuk Sofiah berdiri untuk segera meneruskan perjalanan yang tidak seberapa lama lagi. Tanpa orang-orang yang mengerubungi dan mengiringinya lagi, Sofiah tampak menjadi lebih tenang. Boleh jadi ia tertekan dan tidak suka dengan kehadiran orang-orang yang mengikutinya. Terbukti ia mau berjalan ke depan menuju rumah orangtua Hamdani.

Tidak sampai sepuluh menit berjalan, Hamdani mencium aroma rumah yang selama ini ia tinggalkan untuk sebuah petualangan rasa dan pengembaraan batin yang tidak pernah ia pahami. Bau kotoran bebek dan ayam kampung tercium bergantian, aroma kandang kambing di belakang rumah dan wangi jerami yang terbakar adalah sensasi yang pertama-tama menusuk hidung, yang memerangkap ingatannya pada masa kanak-kanak, saat ia terbiasa berjualan pisang goreng.

Belum sampai Hamdani dan Sofiah ke pintu pagar bambu, di balik pagar Sumiati sudah berdiri menyambut mereka sambil berkacak pinggang.

(Bersambung)