Sastra

CERPEN | Perempuan Penyapu Halaman [16]

Oleh: Pepih Nugraha

HARI berganti seperti ulat menjadi kupu-kupu, terasa lambat tetapi pasti terjadi. Dangau itu tetap saja seperti dangau ketika lima tahun lalu Hamdani dan Sofiah berteduh dari sengatan hujan.

Bahwa ada sedikit perubahan, itu karena Hamdani sudah menambahkan dinding dari belahan bambu hitam sehingga tidak terlalu mencolok jika terlihat dari luar. Tentu saja atas seizin Haji Ahyar.

Dari sisi penghidupan, kini Hamdani tidak lagi mengandalkan pemberian Haji Ahyar berupa upah menjaga kebun ubi jalar dan singkong, ia sudah mampu memanfaatkan kekayaan alam yang ada di lingkungan sekitarnya.

Pada hari-hari tertentu ketika sedang musimnya, Hamdani mengajak Sofiah pergi ke hutan untuk berburu sarang lebah yang rongga-rongganya penuh madu hutan itu. Dengan madu alam inilah yang Hamdani jual ke pasar, hanya menaruhnya di ember kaleng. Ada saja peminatnya, khususnya orang yang tahu khasiat madu sebagai obat segala obat.

Kawanan lebah yang Hamdani buru itu bersarang di pohon yang sangat tinggi. Tentu ia harus hati-hati saat mengambilnya, terlebih tatkala harus meninggalkan Sofiah di bawah pohon, menanti sarang lebah selesai diambil tanpa kemarahan sang ratu lebah dan pengikutnya.

Selagi berada di ketinggian, sesungguhnya Hamdani agak sulit berkonsentrasi. Ia khawatir Sofiah yang sedang menunggu di bawah tiba-tiba lari atau melarikan diri sehingga ia akan kesulitan mengejarnya. Apalagi kalau itu terjadi saat Hamdani mengambil sarang lebah dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kemarahan kawanan serangga penghasil madu itu. Tidak mungkin pula ia mengikat Sofiah ke batang pohon, sebab kesannya seperti menambatkan hewan.

Pernah suatu waktu saat Hamdani sedang berada di ketinggian sebuah pohon dan tengah mengambil sarang lebah, terlihat oleh ekor matanya di bawah Sofiah menjerit dan berlari ke arah hutan yang lebih dalam. Tanpa memikirkan sarang lebah yang sudah berhasil dipegangnya, Hamdani lekas-lekas turun dengan keterampilan seekor monyet.

Sesungguhnya, turun saja sudah menghabiskan energi yang luar biasa besar saat sudah mendarat di tanah, ia harus langsung berlari ke arah tadi Sofiah melarikan diri.

“Teh Sofi….!!” teriaknya sambil berlari. Sedangkan yang ia kejar sudah tidak nampak di depan mata. Hening. Kembali Hamdani berteriak memanggil namanya sambil terus berlari mencari Sofiah. “Teh… di mana kamu, Teh Sofi!?”

Sesayup sampai ia mendengar suara Sofiah, tetapi itu terdengar dari kejauhan, yang berarti jarak yang memisahkan antara dirinya dengan Sofiah sudah sangat lebar. Hamdani tidak menyangka Sofiah mampu berlari secepat kijang. Ia harus mengerahkan seluruh kemampuan berlarinya agar bisa lebih mendekat Sofiah.

“Teh Sofiiii….!!!” Hamdani berteriak lagi seperti Tarzan dengan menangkupkan sepuluh jemari tangan di sekeliling bibirnya, membentuk pelantang agar suara yang dihasilkan lebih keras. Gema di hutan itu terdengar seperti bersahutan, tetapi suaranya tidak berjawab.

Hamdani lupa, jangankan di hutan seperti ini, di dangau itu saja Sofiah tidak pernah merespons pertanyaannya, seolah-olah tidak memahami apa yang Hamdani tanyakan. Ini sesungguhnya yang memukul batinnya saat melihat dan merasakan sendiri, ternyata belum ada perubahan berarti pada diri Sofiah.

Di hutan ini Hamdani kehilangan jejak.

Ada dua kemungkinan; Sofiah sengaja bersembunyi di semak-semak atau di balik pepohonan, kemungkinan kedua dia memang semakin lari menjauh. Jika dua kemungkinan itu yang terjadi, maka akan sama sulitnya bagi Hamdani untuk menemukan Sofiah, ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Namun demikian, Hamdani tidak mudah berpatah arang, ia terus berteriak memanggil nama Sofiah. Nihil.

Semakin berlari menerabas hutan, semakin tipis harapan untuk dapat menemukan Sofiah, sebab jalan setapak yang pada musim kering terlihat jejaknya, pada musim penghujan sudah tertutup lagi rumput dan perdu liar yang tumbuh pesat.

Pada saat Hamdani dikuasai kebingungan karena tidak tahu lagi harus berbuat apa, ia kaget luar biasa ketika seseorang menutup kedua matanya dari belakang, seolah-olah ia sedang terlibat dalam permainan petak-umpet yang dulu biasa dimainkan semasa kanak-kanak.

Secara refleks Hamdani memegang dua tangan yang menutupi matanya dan berusaha melepaskannya. Berhasil. Saat ia berpaling membalikkan badan, Sofiah sudah berdiri dengan tawanya yang berderai-derai memecah keheningan hutan.

“Teh Sofi…!?” kata Hamdani dengan perasaan yang masih dikuasai antara kesal, marah, jengkel, heran, bingung dan seribu macam perasaan lainnya, berkelindan dalam waktu bersamaan dalam pikirannya. “Teganya kamu ngerjain aku, Teh!”

Sofiah membalas dengan ringkikkan tawanya, seperti biasa, tawa yang bergema ke seisi hutan.

Peristiwa semacam ini kadang menghantam relung hatinya yang paling dalam, lalu menjalar ke relung pikirannya; “Sia-siakah upaya yang kulakukan selama lima bulan mendampingi Sofiah? Percumakah cara membenamkan seluruh tubuh Sofiah di lubuk sungai berair dingin pada setiap dinihari? Mengapa Sofiah belum juga menunjukkan perkembangan jiwa ke arah yang lebih baik? Sampai kapan aku mampu bertahan dengan apa yang kulakukan ini?”

Kini Hamdani menulis semua perasaan dan pertanyaan yang mengepung pikirannya dalam buku catatan pemberian mahasiswi psikologi yang beberapa waktu lalu menemuinya untuk sebuah wawancara. Selain peristiwa yang menurutnya penting untuk dicatat seperti kejadian di hutan di mana seolah-olah Sofiah mengajak bermain petak-umpet, pergolakan batin yang muncul dari dalam dirinya juga ia catat dengan saksama.

Kini Hamdani merasa buku catatan dan pulpen pemberian Dianti seolah-olah hiburan baru yang tak terduga di tengah perang batin yang berkecamuk dalam dirinya, bahkan berfungsi sebagai pelarian saat ia tersudutkan oleh rasa putus asa yang kerap datang mengepungnya.

Sekarang apapun ia catat, terutama peristiwa-peristiwa yang menunjukkan adanya perubahan sikap pada diri Sofiah. Ia meyakini, catatannya akan bermanfaat buat mahasiswi itu.

Pernah misalnya ia mencatat sedikit perubahan yang terjadi pada diri Sofiah saat Hamdani memandikannya di lubuk air terjun sungai berair dingin pada suatu dinihari. Sofiah yang biasa meringkik saat bertemu air tanpa menunjukkan rasa dingin, saat itu menggigil hebat. Ringkik tawanya pun menghilang.

Hamdani tetap memaksa Sofiah menyelam, sebab dalam keyakinannya tidak boleh ada satu hari pun terlewat dari rutinitas itu.

Akan tetapi, Sofiah menggigil hebat dengan gigi yang gemerutuk. Lewat bantuan cahaya senter yang dibeli di pasar, Hamdani memandang bibir Sofiah yang sudah membiru. “Ada yang tidak beres,” gumamnya.

Buru-buru ia membungkus tubuh telanjang Sofiah dengan kainnya dan segera mengajak kembali ke dangau, menyalakan bara menjadi api agar Sofiah bisa menghangatkan tubuhnya yang masih menggigil hebat. Hamdani membantu memberi kehangatan tambahan bagi Sofiah dengan cara memeluknya.

Pada dinihari itu juga, lewat penerangan buah jarak yang dibakar, Hamdani langsung menulis pengalaman pada catatan hariannya sebagai berikut;

“Apakah orang sakit jiwa seperti Sofiah ini tidak pernah merasakan sakit? Sepanjang bersamanya selama hampir lima bulan terakhir ini, baru kali ini aku melihat ia demikian menderita sakit, badannya panas tapi kerap menggigil usai panas itu reda. Apakah sakit fisiknya orang sakit ingatan itu menunjukkan perkembangan yang baik menuju kesembuhan ingatannya?”

Pada keesokan pagi Hamdani mendapatkan Sofiah terkapar di dangau dengan suhu badan yang tinggi, tidak seperti biasa….

Nun jauh di sana, terpisahkan oleh jarak, siang itu Dianti bersama karibnya, terlibat percakapan seru di cafetaria sebelum mengikuti kuliah pertama di pagi itu. Lilis, Elin dan Didi, mengocoknya dengan ledekan tentang pemuda desa itu.

“Oh iya, apa kabarnya pemuda desamu itu, Anti?” Lilis memulai ledekannya dengan maksud menghangatkan suasana. “Kamu kok anteng-anteng saja!?”

“Hemm… jangan-jangan kamu sudah mendapatkan sensasi itu, ya, kamu ‘kan belum cerita pertemuanmu dengannya ke kita-kita?” sambar Elin.

“Zaman memang sudah berubah, tidak tertutup kemungkinan bukan Hamdani yang melamarmu nanti, Anti, tetapi kamulah yang melamar Hamdani,” kelakar Didi mengurai derai tawanya.

Aneh, kali ini Dianti tidak marah atau gusar.

Pipinya mendadak merah merona.

(Bersambung)