Sofiah membalas dengan ringkikkan tawanya, seperti biasa, tawa yang bergema ke seisi hutan.
Peristiwa semacam ini kadang menghantam relung hatinya yang paling dalam, lalu menjalar ke relung pikirannya; “Sia-siakah upaya yang kulakukan selama lima bulan mendampingi Sofiah? Percumakah cara membenamkan seluruh tubuh Sofiah di lubuk sungai berair dingin pada setiap dinihari? Mengapa Sofiah belum juga menunjukkan perkembangan jiwa ke arah yang lebih baik? Sampai kapan aku mampu bertahan dengan apa yang kulakukan ini?”
Kini Hamdani menulis semua perasaan dan pertanyaan yang mengepung pikirannya dalam buku catatan pemberian mahasiswi psikologi yang beberapa waktu lalu menemuinya untuk sebuah wawancara. Selain peristiwa yang menurutnya penting untuk dicatat seperti kejadian di hutan di mana seolah-olah Sofiah mengajak bermain petak-umpet, pergolakan batin yang muncul dari dalam dirinya juga ia catat dengan saksama.
Kini Hamdani merasa buku catatan dan pulpen pemberian Dianti seolah-olah hiburan baru yang tak terduga di tengah perang batin yang berkecamuk dalam dirinya, bahkan berfungsi sebagai pelarian saat ia tersudutkan oleh rasa putus asa yang kerap datang mengepungnya.
Sekarang apapun ia catat, terutama peristiwa-peristiwa yang menunjukkan adanya perubahan sikap pada diri Sofiah. Ia meyakini, catatannya akan bermanfaat buat mahasiswi itu.
Pernah misalnya ia mencatat sedikit perubahan yang terjadi pada diri Sofiah saat Hamdani memandikannya di lubuk air terjun sungai berair dingin pada suatu dinihari. Sofiah yang biasa meringkik saat bertemu air tanpa menunjukkan rasa dingin, saat itu menggigil hebat. Ringkik tawanya pun menghilang.
Hamdani tetap memaksa Sofiah menyelam, sebab dalam keyakinannya tidak boleh ada satu hari pun terlewat dari rutinitas itu.
Akan tetapi, Sofiah menggigil hebat dengan gigi yang gemerutuk. Lewat bantuan cahaya senter yang dibeli di pasar, Hamdani memandang bibir Sofiah yang sudah membiru. “Ada yang tidak beres,” gumamnya.
Buru-buru ia membungkus tubuh telanjang Sofiah dengan kainnya dan segera mengajak kembali ke dangau, menyalakan bara menjadi api agar Sofiah bisa menghangatkan tubuhnya yang masih menggigil hebat. Hamdani membantu memberi kehangatan tambahan bagi Sofiah dengan cara memeluknya.
Pada dinihari itu juga, lewat penerangan buah jarak yang dibakar, Hamdani langsung menulis pengalaman pada catatan hariannya sebagai berikut;
“Apakah orang sakit jiwa seperti Sofiah ini tidak pernah merasakan sakit? Sepanjang bersamanya selama hampir lima bulan terakhir ini, baru kali ini aku melihat ia demikian menderita sakit, badannya panas tapi kerap menggigil usai panas itu reda. Apakah sakit fisiknya orang sakit ingatan itu menunjukkan perkembangan yang baik menuju kesembuhan ingatannya?”
Pada keesokan pagi Hamdani mendapatkan Sofiah terkapar di dangau dengan suhu badan yang tinggi, tidak seperti biasa….
Nun jauh di sana, terpisahkan oleh jarak, siang itu Dianti bersama karibnya, terlibat percakapan seru di cafetaria sebelum mengikuti kuliah pertama di pagi itu. Lilis, Elin dan Didi, mengocoknya dengan ledekan tentang pemuda desa itu.
“Oh iya, apa kabarnya pemuda desamu itu, Anti?” Lilis memulai ledekannya dengan maksud menghangatkan suasana. “Kamu kok anteng-anteng saja!?”
“Hemm… jangan-jangan kamu sudah mendapatkan sensasi itu, ya, kamu ‘kan belum cerita pertemuanmu dengannya ke kita-kita?” sambar Elin.
“Zaman memang sudah berubah, tidak tertutup kemungkinan bukan Hamdani yang melamarmu nanti, Anti, tetapi kamulah yang melamar Hamdani,” kelakar Didi mengurai derai tawanya.
Aneh, kali ini Dianti tidak marah atau gusar.
Pipinya mendadak merah merona.
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















