Sastra

CERPEN : Perempuan Penyapu Halaman [20]

Oleh: Pepih Nugraha

BARU hari pasar kali ini Hamdani tidak berjualan. Bukan apa-apa, sarang lebah yang seharusnya ia ambil sehari sebelum hari pasar tiba-tiba sudah lenyap dari pohon, padahal seminggu sebelumnya ia menandai pohon besar itu. Memang, saat itu belum waktunya sarang lebah itu diambil karena kandungan madu di dalamnya belum cukup.

Aneh, pikirnya, seharusnya sarang lebah itu ada di pohon. Siapa yang berani-berani mengambilnya? Sebangsa dadali atau beruang madu yang biasa hidup di pepohonankah yang mendahuluinya? Tetapi, apa iya di hutan ini hidup jenis beruang madu, yang meski berukuran kecil tetapi kukunya sangat panjang dan tajam itu.

Hamdani malah berharap yang mengambil sarang lebah berisi madu itu manusia, sebangsanya sendiri, bukan beruang madu yang bisa mengancam nyawanya saat beradu cepat mendapatkan sarang lebah. Kalau manusia, tidak mungkin berkelahi sampai mati hanya untuk berebut sarang madu.

Aturan di Malausma mengatakan, siapa saja boleh mengambil isi hutan seperti madu, jamur, bunga anggrek, pisitan, ceremai, belimbing, dawolo atau rebung, asal tidak menebang pohon. Aturannya adalah, siapa cepat dia dapat. Namun tetap saja lenyapnya sarang lebah yang sudah ditandai itu menyisakan tanya di kepala Hamdani.

Gagal pergi ke pasar karena tidak ada yang bisa ia jual, Hamdani menggunakan waktunya untuk merenung, sesekali mengajak Sofiah berbicara. Baginya, upaya memandikan Sofiah setiap dinihari sepanjang mereka berdua berada di dangau itu adalah sebuah usaha, yang dalam pandangannya telah membuahkan hasil, setidaknya begitulah yang ia amati dan rasakan.

Amatan pertama, beberapa kali Sofiah menolak mandi berendam di lubuk sungai berair jernih itu secara telanjang bulat sebagaimana biasanya. Ia menggunakan kain saat berendam, kemudian kain itu perlahan-lahan ia buka setelah berada di dalam air. Biasanya, tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya, Sofiah sudah terjun ke dalam lubuk dengan ringkikannya.

Kini ringkikannya itu telah berkurang.

Amatan kedua, Sofiah sesekali terdiam. Tepatnya berdiam diri. Prilaku yang selama ini jarang terjadi. Biasanya kalau sedang tersadar, ia selalu bergumam tidak jelas, apa saja ia ceritakan. Beberapa nama kerap ia sebut, khususnya nama-nama pria. Berulang-ulang nama-nama itu ia sebut dalam gumamannya.

Kalaupun tidak bergumam, ia biasa nembang, nyanyi dangdut koplo kesukaan, lengkap dengan goyangannya. Sofiah bisa berjoget berjam-jam sebelum akhirnya kelelahan sendiri. Lalu berteriak lagi. Menggerutu lagi. Mengumpat lagi. Demikian seterusnya.

Dengan buku catatan pemberian mahasiswi psikologi itu, Hamdani kini bisa mencatat setiap perubahan yang terjadi, khususnya saat ia menemukan –setidaknya merasakan- perkembangan yang mengarah ke perbaikan keadaan Sofiah. Hamdani menulis detail perkembangannya, bahkan juga kemundurannya jika itu terjadi.

Selain menulis harapannya, sesekali ia menulis kegundahannya, keresahannya, keputusasaannya, apapun yang ia pikirkan dan rasakan. Hamdani berterima kasih kepada Dianti, si mahasiswi psikologi itu, sebab dengan buku catatan pemberiannya itu, ia menemukan jalan pelarian dari kesuntukkannya dalam melakoni rutinitas kehidupannya. Di dangau itu.

“Sampai kapan akan kujalini kehidupan seperti ini,” demikian Hamdani menulis. “Seluruh kemampuan telah kukerahkan, segenap keberanian telah kutunjukkan, semua kesetiaan telah kuberikan. Benar bahwa belum seluruh kesabaran kuhabiskan, tetapi entah sampai kapan? Kalau bukan karena rasa itu, hanya lelaki kurang waras saja yang tetap melanjutkan petualangan ini…”

Saat ia sedang menulis catatannya kira-kira sehabis ashar, dari kejauhan seorang perempuan nampak menuju dangau. Hamdani pastikan perempuan itu sedang menuju ke arahnya. Sementara Sofiah masih nembang selepas duhur tadi, tembang yang berulang-ulang ia nyanyikan….

aya hiji rupa sato leutik
engkang-enkang sok luluncatan di cai
ari wangunna rek sarupa jeung lancah.

Hamdani pikir, perempuan yang sedang menuju ke arahnya itu adalah Dianti, mahasiswi yang pernah datang mengajaknya berbicara, lalu memberikan catatan untuk ia tulis sehabis wawancara dilakukan.

Ah, tidak mungkin jelang sore ini dia datang kemari, pikirnya, sudah terlalu malam untuk pulangnya nanti. Segera ia mengenal langkah dan lagak perempuan itu berjalan.

Rodiah.

Sesaat kemudian ingatan Hamdani melayang pada peristiwa ijab kabul pernikahannya dengan Sofiah di sebuah masjid di mana pernikahan itu tidak bisa disahkan oleh negara. Perempuan itulah yang menyeruak kerumuman, berteriak, mengarahkan telunjuknya, kemudian melabrak Hamdani di tengah keramaian.

“Kau tentu kaget atas kedatanganku ini, bukan?” kata Rodiah setelah jarak yang memisahkan mereka tinggal tiga hasta saja. “Jangan khawatir, aku tidak akan melabrakmu lagi, juga Sofiahmu itu,” sambungnya seraya menunjuk perempuan yang sedang menembang.

“Apakah masih tentang persoalan yang dulu kau jauh-jauh datang kemari, Diah? Hari sudah jelang petang, bagaimana kau nanti pulang?”

“Bahkan aku tidak berpikir untuk pulang!”

“Kau jangan menjadi sinting seperti itu, Rodiah,” kata Hamdani memandang tajam perempuan yang mengenakan rok agak tinggi, yang tidak galib dipakai para perempuan desa.

“Biarkan aku menjadi sinting agar aku juga mendapatkan perhatianmu, cintamu, sebagaimana kamu memperhatikan dan mencintai perempuan sinting itu,” kata Rodiah tegas, tanpa tedeng aling-aling.

“Kau hanya pura-pura sinting, sementara Sofiah benar-benar sakit ingatan yang memerlukan perhatianku, paham?”

“Kau yang tidak pernah menimbang rasa bahwa selama ini aku juga telah menjadi sinting memikirkanmu setiap hari, Hamdani, sementara aku tidak mendapatkan perlakuan yang sama seperti Sofiah. Bagiku ini tidak adil.”

“Telah kukatakan berkali-kali, aku tidak pernah menjanjikan apa-apa kepadamu. Aku juga tidak harus bertanggung jawab kepadamu karena aku tidak pernah melakukan apa-apa kepadamu, bukan?” gugat Hamdani. “Mohon pahami keadaanku ini, Diah, aku harus bertanggung jawab kepadanya, kepada Sofiah.”

“Berarti hubunganmu sedemikian jauh sebelum kamu menunjukkan tanggung jawabmu dengan menikahinya, meski ia telah menjadi perempuan sinting saat kaunikahi, begitu?”

“Maaf kalau terpaksa kuungkapkan, mungkin kau tidak akan percaya bahwa aku melakukannya beberapa hari setelah mengalami mimpi basah pertamaku, Diah, itu peristiwa lama… lama sekali. Mungkin kau masih bermain boneka saat aku melakukannya bersama Sofiah di dangau ini. Di dangau ini!”

“Kau merasa bahwa Sofiah yang sudah dewasa saat itu memerkosamu?”

“Sayangnya tidak, Diah,” kata Hamdani, “aku bahkan menerimanya meski dengan perasaan takut luar biasa.”

“Kau bajingan juga rupanya, Hamdani!”

“Dan kau masih berharap punya suami bajingan macam aku!”

Rodiah terdiam.

“Adakah yang salah kalau aku mencintai lelaki bajingan?” katanya kemudian semakin mendekat, tangan kanannya mengelus dagu Hamdani. “Bukankah ini sepadan denganmu yang mencintai perempuan sinting?”

Giliran Hamdani yang terdiam setelah menepis lengan Rodiah.

“Semakin kita bertutur kata, semakin cepat waktu bergulir,” kata Hamdani. “Kau lihat sendiri, hari sudah beranjak gelap. Segeralah kau pulang!”

“Tidak,” balas Rodiah cepat. “Aku akan menginap di sini!”

(Bersambung)