“Bahkan aku tidak berpikir untuk pulang!”
“Kau jangan menjadi sinting seperti itu, Rodiah,” kata Hamdani memandang tajam perempuan yang mengenakan rok agak tinggi, yang tidak galib dipakai para perempuan desa.
“Biarkan aku menjadi sinting agar aku juga mendapatkan perhatianmu, cintamu, sebagaimana kamu memperhatikan dan mencintai perempuan sinting itu,” kata Rodiah tegas, tanpa tedeng aling-aling.
“Kau hanya pura-pura sinting, sementara Sofiah benar-benar sakit ingatan yang memerlukan perhatianku, paham?”
“Kau yang tidak pernah menimbang rasa bahwa selama ini aku juga telah menjadi sinting memikirkanmu setiap hari, Hamdani, sementara aku tidak mendapatkan perlakuan yang sama seperti Sofiah. Bagiku ini tidak adil.”
“Telah kukatakan berkali-kali, aku tidak pernah menjanjikan apa-apa kepadamu. Aku juga tidak harus bertanggung jawab kepadamu karena aku tidak pernah melakukan apa-apa kepadamu, bukan?” gugat Hamdani. “Mohon pahami keadaanku ini, Diah, aku harus bertanggung jawab kepadanya, kepada Sofiah.”
“Berarti hubunganmu sedemikian jauh sebelum kamu menunjukkan tanggung jawabmu dengan menikahinya, meski ia telah menjadi perempuan sinting saat kaunikahi, begitu?”
“Maaf kalau terpaksa kuungkapkan, mungkin kau tidak akan percaya bahwa aku melakukannya beberapa hari setelah mengalami mimpi basah pertamaku, Diah, itu peristiwa lama… lama sekali. Mungkin kau masih bermain boneka saat aku melakukannya bersama Sofiah di dangau ini. Di dangau ini!”
“Kau merasa bahwa Sofiah yang sudah dewasa saat itu memerkosamu?”
“Sayangnya tidak, Diah,” kata Hamdani, “aku bahkan menerimanya meski dengan perasaan takut luar biasa.”
“Kau bajingan juga rupanya, Hamdani!”
“Dan kau masih berharap punya suami bajingan macam aku!”
Rodiah terdiam.
“Adakah yang salah kalau aku mencintai lelaki bajingan?” katanya kemudian semakin mendekat, tangan kanannya mengelus dagu Hamdani. “Bukankah ini sepadan denganmu yang mencintai perempuan sinting?”
Giliran Hamdani yang terdiam setelah menepis lengan Rodiah.
“Semakin kita bertutur kata, semakin cepat waktu bergulir,” kata Hamdani. “Kau lihat sendiri, hari sudah beranjak gelap. Segeralah kau pulang!”
“Tidak,” balas Rodiah cepat. “Aku akan menginap di sini!”
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















