Sofiah tetap bergeming. Sekarang ia malah tidak mau berdiri dari duduk bersimpuh di bawah pohon sukun, seperti anak kecil mogok sekolah. Kain sidamuktinya terangkat cukup tinggi, memperlihatkan betis dan sebagian pahahanya yang sempurna. Tanpa Hamdani sadari, diam-diam beberapa orang mengikutinya dari belakang, entah apa yang mereka kehendaki.
Pada masa sebelumnya, Hamdani tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran orang-orang yang tiba-tiba mengiringi langkahnya, sebagaimana yang pernah ia alami saat membawa celeng hasil buruannya untuk pertama kalinya. Itulah celeng pertama dan terakhir yang ia tangkap dan dijual ke Koh Ahong.
Kini kehadiran gerombolan manusia yang menguntit di belakangnya terasa sangat menganggu ketenangannya, karenanya ia ingin menghardik mereka. Dulu terasa kehadiran mereka sangat membantu menumbuhkan keyakinannya, serasa kawan seiring.
Kombinasi antara lelah, penat, capek, putus asa dan keraguan membuat amarahnya sedikit naik dan bergolak. Tidak biasanya. Sebab, Hamdani biasa menghadapi kenyataan hidup dengan santai, apapun peristiwanya. Kali ini ia merasa tidak bisa menerima kehadiran orang-orang yang menguntit, apalagi mereka sudah mulai mencemoohnya, melecehkannya, bahkan terdengar ada yang menghinanya. Ia berusaha menekan gejolak hatinya, akan tetapi benteng ketahanan jiwanya ambrol juga.
Hamdani berdiri dan berbalik badan, kemudian melangkahkan kaki ke arah kerumunan orang-orang yang bergerombol di belakangnya. Mereka tidak berani melewati langkah beriringan dirinya dengan Sofiah, tetapi sebatas mengiringi saja dan inilah yang membuat Hamdani terganggu, tidak seperti biasanya. Tahu kalau Hamdani sedang memendam amarah, para pengiring yang mengikutinya pun menahan langkah.
“Kalian kira aku sudah ikut-ikutan gila ketularan perempuan ini sehingga pantas kalian jadikan tontotan seperti ronggeng monyet?” teriak Hamdani sambil menunjuk Sofiah yang masih bersimpuh. “Bukan begitu, wahai orang-orang Malausma!?”
Sunyi. Tidak ada yang berani bersuara. Sebagian dari mereka benar-benar balik badan, sebagian bertahan, tetapi tidak bereaksi apa-apa, menunggu apa yang akan Hamdani lakukan.
“Begini saja, daripada kalian kekurangan tontonan, bagaimana kalau aku menantang kalian berkelahi di sini!” teriak Hamdani lagi. “Majulah dua sampai tiga pemuda kemari, ayo lawan aku berkelahi, niscaya kalian akan mendapat tontonan!”
Tantangan itu tidak bersambut. Ada beberapa pemuda di antara kerumunan itu. Akan tetapi, tak satu pun di antara merteka yang berani maju, bahkan sampai tiga orang sebagaimana yang diminta Hamdani. Badan yang berotot, betis yang menyerupai pahatan kayu, dan lengan-lengan yang berotot kawat telah menciutkan nyali kerumunan itu. Satu persatu mereka balik badan, bahkan ada yang sambil lari menjauh. Mereka yakin, Hamdani sudah ketularan gila, percuma saja menghadapi orang gila.
Kerumunan itu bubar meninggalkan Sofiah dan Hamdani.
Hamdani menarik napas lega. Dengan berbagai cara, akhirnya ia berhasil membujuk Sofiah berdiri untuk segera meneruskan perjalanan yang tidak seberapa lama lagi. Tanpa orang-orang yang mengerubungi dan mengiringinya lagi, Sofiah tampak menjadi lebih tenang. Boleh jadi ia tertekan dan tidak suka dengan kehadiran orang-orang yang mengikutinya. Terbukti ia mau berjalan ke depan menuju rumah orangtua Hamdani.
Tidak sampai sepuluh menit berjalan, Hamdani mencium aroma rumah yang selama ini ia tinggalkan untuk sebuah petualangan rasa dan pengembaraan batin yang tidak pernah ia pahami. Bau kotoran bebek dan ayam kampung tercium bergantian, aroma kandang kambing di belakang rumah dan wangi jerami yang terbakar adalah sensasi yang pertama-tama menusuk hidung, yang memerangkap ingatannya pada masa kanak-kanak, saat ia terbiasa berjualan pisang goreng.
Belum sampai Hamdani dan Sofiah ke pintu pagar bambu, di balik pagar Sumiati sudah berdiri menyambut mereka sambil berkacak pinggang.
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















