Namun jangan salah. Dia paham persis bahwa kekuasaan tidak boleh selamanya mempertontonkan kelemahan. Sesekali ia memainkan pecut. Dia mengorkestrasi kemarahan kepada pembantu-pembantunya. Dan, tentu saja, memastikan bahwa kemarahan itu dilihat oleh publik.
Dia juga gemar bersolek dengan pakaian ala raja-raja. Masih ingat proyeksinya tentang keragaman, dimana di acara-acara kenegaraan penting dia memakai pakaian adat? Dia hampir selalu tampil dengan pakaian raja atau kepala suku. Bukan pakaian adat para jelata.
Dia tahu persis bagaimana memainkan kelemahan dan kekuatan ini. Bagaimana membuat sebuah spectacle (pertunjukan) dimana dia mendapat perhatian secara maksimal. Persis tepat dengan karakter politisi populis: narsistik!
Nah, kembali ke soal di atas. Ibukotanya jelas belum akan jadi dalam waktu 90 hari ke depan. Namun ia tidak ingin terlihat gagal.
Yang dilakukan adalah bekerja disana. Apakah istananya selesai atau tidak selesai, namun penting bagi dia agar publik tahu bahwa dia sudah bekerja disana!
Namun, sekaligus dia tidak ingin memperlihatkan bahwa dia bekerja dengan suasana nyaman seperti di Jakarta. Maka, secara sangat taktis, dia menciptakan pemandangan bahwa disana tidak ada meja. Hanya kursi saja. Padahal, dengan kekuatan dan kekuasaan negara yang dia punya, apa sih sulitnya mengangkut meja ke sana?
Kemudian, kepada pers dia bilang bahwa tidurnya tidak nyenyak disana. Aha! Kesan yang muncul adalah situasi yang serba terbatas. Mungkin karena nyamuk. Mungkin karena tempat tidur yang tidak nyaman.
Sebagai penguasa sebenarnya itu bisa dia selesaikan dengan mudah. Sangat mudah. Dia membawah ratusan ribu prajurit, jutaan pegawai negeri, dan belum lagi kolega-kolega yang superkaya. Namun, dia memilih tidur tidak nyenyak?
Ini koreografi kekuasaan yang sangat sederhana. Saking sederhananya, banyak orang tidak menganggapnya sebagai koreografi. Yang ada adalah persepsi bahwa dia bertanggungjawab. Dia adalah penyelesai masalah (problem solver). Dia punya komitmen sangat kuat untuk mewujudkan ibukota impiannya itu.
Yang tidak dipikirkan oelh banyak orang adalah bahwa semua itu sudah dikoreografi untuk membangun persepsi. Apakah ibukota itu akan selesai dalam 90 hari sisa kekuasaannya? Jelas tidak. Bahkan ada kemungkinan penguasa berikutnya atau bahkan mungkin anaknya sendiri (oh Lord, spare us from this to happen!) mungkin tidak bisa melanjutkannya.
Orang sering lupa pada pola-pola koreografi ini. Ingat mobil Esemka, ketika dia berbual bahwa orang harus inden 3-4 tahun untuk membelinya? Segera muncul bahwa ia pemimpin yang visioner, yang bekerja keras untuk kemajuan negeri ini. Dia tahu persis bahwa itu tidak mungkin dilakukan. Namun toh dia bisa mengkoreografi sukses, bahkan ketika sukses itu sendiri adalah kegagalan.
Saya maklum kalau Sodara tidak paham. Karena memang ketidakpahaman itulah yang dia kehendaki. Semakin Anda tidak paham, maka ia semakin berhasil! .***
Halaman : 1 2

















