Koreografi Kekuasaan

Redaksi

- Jurnalis

Selasa, 30 Juli 2024 - 08:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Namun jangan salah. Dia paham persis bahwa kekuasaan tidak boleh selamanya mempertontonkan kelemahan. Sesekali ia memainkan pecut. Dia mengorkestrasi kemarahan kepada pembantu-pembantunya. Dan, tentu saja, memastikan bahwa kemarahan itu dilihat oleh publik.

Dia juga gemar bersolek dengan pakaian ala raja-raja. Masih ingat proyeksinya tentang keragaman, dimana di acara-acara kenegaraan penting dia memakai pakaian adat? Dia hampir selalu tampil dengan pakaian raja atau kepala suku. Bukan pakaian adat para jelata.

Dia tahu persis bagaimana memainkan kelemahan dan kekuatan ini. Bagaimana membuat sebuah spectacle (pertunjukan) dimana dia mendapat perhatian secara maksimal. Persis tepat dengan karakter politisi populis: narsistik!

Nah, kembali ke soal di atas. Ibukotanya jelas belum akan jadi dalam waktu 90 hari ke depan. Namun ia tidak ingin terlihat gagal.

Yang dilakukan adalah bekerja disana. Apakah istananya selesai atau tidak selesai, namun penting bagi dia agar publik tahu bahwa dia sudah bekerja disana!

Namun, sekaligus dia tidak ingin memperlihatkan bahwa dia bekerja dengan suasana nyaman seperti di Jakarta. Maka, secara sangat taktis, dia menciptakan pemandangan bahwa disana tidak ada meja. Hanya kursi saja. Padahal, dengan kekuatan dan kekuasaan negara yang dia punya, apa sih sulitnya mengangkut meja ke sana?

Kemudian, kepada pers dia bilang bahwa tidurnya tidak nyenyak disana. Aha! Kesan yang muncul adalah situasi yang serba terbatas. Mungkin karena nyamuk. Mungkin karena tempat tidur yang tidak nyaman.

Sebagai penguasa sebenarnya itu bisa dia selesaikan dengan mudah. Sangat mudah. Dia membawah ratusan ribu prajurit, jutaan pegawai negeri, dan belum lagi kolega-kolega yang superkaya. Namun, dia memilih tidur tidak nyenyak?

Ini koreografi kekuasaan yang sangat sederhana. Saking sederhananya, banyak orang tidak menganggapnya sebagai koreografi. Yang ada adalah persepsi bahwa dia bertanggungjawab. Dia adalah penyelesai masalah (problem solver). Dia punya komitmen sangat kuat untuk mewujudkan ibukota impiannya itu.

Yang tidak dipikirkan oelh banyak orang adalah bahwa semua itu sudah dikoreografi untuk membangun persepsi. Apakah ibukota itu akan selesai dalam 90 hari sisa kekuasaannya? Jelas tidak. Bahkan ada kemungkinan penguasa berikutnya atau bahkan mungkin anaknya sendiri (oh Lord, spare us from this to happen!) mungkin tidak bisa melanjutkannya.

Orang sering lupa pada pola-pola koreografi ini. Ingat mobil Esemka, ketika dia berbual bahwa orang harus inden 3-4 tahun untuk membelinya? Segera muncul bahwa ia pemimpin yang visioner, yang bekerja keras untuk kemajuan negeri ini. Dia tahu persis bahwa itu tidak mungkin dilakukan. Namun toh dia bisa mengkoreografi sukses, bahkan ketika sukses itu sendiri adalah kegagalan.

Saya maklum kalau Sodara tidak paham. Karena memang ketidakpahaman itulah yang dia kehendaki. Semakin Anda tidak paham, maka ia semakin berhasil! .***

Follow WhatsApp Channel www.kabarbenggawi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Rekomendasi untuk Anda

Ketidaknetralan ASN dalam Pilkada Banggai Laut, Ancaman bagi Demokrasi Lokal
Menuju Bangkep Emas 2030, Peluang dan Tantangan
Kepala Desa Bukanlah Raja Yang Berkuasa
Banjir dan Perda RTRW, Sebuah Refleksi Bencana Berulang Banggai Laut
Harapan Orang Desa Di Marka Jalan Eoforia Politik 2024
Tadarus Demokrasi: Menghadapi Derasnya Informasi Ditahun Politik
Menilisik Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
Omnimbus Law UU Cipta Kerja Inkonstitusional Bersyarat
Berita ini 105 kali dibaca
Tag :

Rekomendasi untuk Anda

Selasa, 26 November 2024 - 07:00 WITA

Ketidaknetralan ASN dalam Pilkada Banggai Laut, Ancaman bagi Demokrasi Lokal

Jumat, 18 Oktober 2024 - 15:44 WITA

Menuju Bangkep Emas 2030, Peluang dan Tantangan

Selasa, 30 Juli 2024 - 08:39 WITA

Koreografi Kekuasaan

Rabu, 10 Juli 2024 - 10:19 WITA

Kepala Desa Bukanlah Raja Yang Berkuasa

Jumat, 5 Juli 2024 - 10:43 WITA

Banjir dan Perda RTRW, Sebuah Refleksi Bencana Berulang Banggai Laut

Berita Terbaru

Advertorial

Bupati Sofyan Kaepa Hibahkan Mobil Operasional untuk PMI

Rabu, 29 Apr 2026 - 11:22 WITA

Advertorial

Lantik Pengurus DPPI Banggai Laut Ini Pesan Bupati Sofyan Kaepa

Selasa, 21 Apr 2026 - 11:20 WITA