Sastra

Perempuan Penyapu Halaman [2]

Oleh: Pepih Nugraha

Dinihari yang sepi masih memeluk pedesaan, menyisakan embun. Di satu sudut wilayah yang didominasi pohon bambu itu, Hamdani menggunakan sarung yang meililit tubuhnya untuk membasuh wajah Sofiah yang berdebu. Bau pesing dan kotoran meruap, menyiksa penciumannya. Ia tak peduli. Pun Hamdani membersihkan kotoran itu selagi ia bisa dengan peralatan yang seadanya.

Sofiah terus bersenandung lagu pengharapan yang sering dinyanyikannya pada masa lalu. Hamdani hapal betul syair dan nada lagu “Aku Cinta Padamu” yang dinyanyikan Jamal Mirdad itu, lagu lama yang entah kenapa Sofiah menyukainya.

“Bernyanyilah sesukamu, sementara aku membersihkanmu, Teh Sofi,” bisik Hamdani di telinga perempuan itu. Tercium bau busuk kotoran telinga yang tak pernah dibersihkan.

“diriku musafir lalu, lama hatiku beku
‘kan kusebar berita ini, aku cinta padamu…..”

Sofiah terus menyanyi berulang-ulang, kadang Hamdani ikut bersenandung mengiringi. Biasanya Sofiah tertawa lebih keras, memecah keheningan malam. Tetapi siapa peduli dengan suara yang sudah dianggap biasa itu, layaknya suara jangkrik, kodok dan burung hantu.

Di sisi lain, Tosari dan keluarga yang menghuni rumah itu tidak pernah peduli dengan nyanyian anaknya di halaman belakang, yang kedua kakinya terpasung pada sebuah balok besar. Mereka merasa sudah memperlakukan Sofiah dengan semestinya, sebagaimana adat dan adab yang berlaku di desa itu.

Dengan cara memasung kaki, persoalan besar dan aib keluarga setidaknya tidak tercoreng dengan kemungkinan berkeliarannya Sofiah di jalan. Bahkan menyapu halaman pada dinihari pun sudah dianggap aib keluarga, yaitu keluarga Tosari yang dianggap memelihara orang sakit jiwa.

Memasung kaki adalah jalan terbaik, yang sering ditempuh oleh penduduk pedasaan itu saat mendapati anggota keluarganya menderita sakit ingatan.

Keesokan harinya Tosari kaget mendapatkan keadaan anak perempuan satu-satunya sudah tampak bersih. Wajahnya tidak lagi kotor dan berdebu, tetapi sudah lebih bercahaya. Pun yang membuat Tosari terheran-heran, bau pesing sudah tida tercium dan kotoran manusia sudah lenyap pula.

Demikian hari-hari selalu berulang. Setiap pagi Tosari mendapatkan anaknya sudah dalam keadaan bersih dengan wajah bercahaya. Bahkan pernah tercium bau bedak dan parfum yang membuat Sofiah menjadi harum. Petani itu masih menganggap hal itu sebagai sebuah keajaiban sebelum datangnya sebuah kepastian.

Kepastian itu datang pada suatu pagi, yang membuyarkan alam primitif Tosari yang selama ini menguasai pikirannya.

“Mohon maaf atas kelancanganku, Pak,” kata seorang pemuda yang muncul dari balik punggung Tosari. “Akulah yang membersihkan anak Bapak setiap malam.”

Tosari menoleh ke belakang, ke arah datangnya sumber suara. Ia cukup mengenali wajah pemuda itu, tersebab seringnya ia memergoki anaknya sedang berdua dengan pemuda itu pada masa lalu, jauh sebelum Sofiah pergi ke kota. Atas kelancangannya itu, Hamdani sudah siap-siap menerima kemarahan Tosari.

“Ah, kau rupanya, Hamdan,” kata Tosari. “Tentu saja aku senang kau bisa meringankan beban keluargaku. Kau tidak usah sembunyi-sembunyi untuk melakukannya.”

Legalah hati Hamdani. “Terima kasih, Pak,” katanya mendekat Sofiah yang sedang terpasung, memakan pisang kukus tanpa mengupas kulitnya. Hamdani yang mencegah Sofiah memakannya sebelum ia membantu mengupas kulitnya, lalu memberikannya. Sofiah tertawa terbahak-bahak dengan mulut penuh pisang rebus.

“Aku datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu,” kata Hamdani setelah membantu menyorongkan cangkir kaleng untuk minum sofiah. Terlihat perubahan pada wajah Tosari, ia lebih serius sekaligus berusaha mempertajam pendengarannya.

“Katakanlah!”

“Izinkan aku melepas Sofiah dari pasungan balok kayu ini, Pak!”

“Takkan pernah kuuzinkan,” balas Tosari cepat. “Kau pikir kau bisa bertanggung jawab kalau Si Sofiah ini bikin onar kampung kita, lalu lari ke kota kecamatan sambil berteriak-teriak atau joget-joget koplo, hah!?”

“Tidak akan pernah terjadi!” balas Hamdani tak kalah cepat.

“Ngawur kau! Orang sakit ingatan itu tempatnya pasungan, paham!?” Dada Tosari turun-naik dengan cepat menahan napas bercampur amarah. “Tempatnya hanya dalam pasungan!”

“Iya, Pak, tetapi tidak untuk Sofiah!”

“Kenapa tidak?”

“Sebab aku akan menikahi puteri Bapak ini,” kata Hamdani.

Tosari tersentak kaget. Seribu kunang-kunang menyala dalam kepalanya di pagi buta. Ia harus mencerna lebih dalam kata-kata yang barusan terlontar dari pemuda itu. Tetapi, ia gagal menemukan makna lain atas kalimat yang barusan ditangkap dan dikunyahnya itu.

“Kau mau menikah dengan perempuan gila…!?”

“Ya,” jawab Hamdani cepat. “Izinkan aku melamar puterimu!” (Bersambung) (Pepih Nugraha)