“Ah, kau rupanya, Hamdan,” kata Tosari. “Tentu saja aku senang kau bisa meringankan beban keluargaku. Kau tidak usah sembunyi-sembunyi untuk melakukannya.”
Legalah hati Hamdani. “Terima kasih, Pak,” katanya mendekat Sofiah yang sedang terpasung, memakan pisang kukus tanpa mengupas kulitnya. Hamdani yang mencegah Sofiah memakannya sebelum ia membantu mengupas kulitnya, lalu memberikannya. Sofiah tertawa terbahak-bahak dengan mulut penuh pisang rebus.
“Aku datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu,” kata Hamdani setelah membantu menyorongkan cangkir kaleng untuk minum sofiah. Terlihat perubahan pada wajah Tosari, ia lebih serius sekaligus berusaha mempertajam pendengarannya.
“Katakanlah!”
“Izinkan aku melepas Sofiah dari pasungan balok kayu ini, Pak!”
“Takkan pernah kuuzinkan,” balas Tosari cepat. “Kau pikir kau bisa bertanggung jawab kalau Si Sofiah ini bikin onar kampung kita, lalu lari ke kota kecamatan sambil berteriak-teriak atau joget-joget koplo, hah!?”
“Tidak akan pernah terjadi!” balas Hamdani tak kalah cepat.
“Ngawur kau! Orang sakit ingatan itu tempatnya pasungan, paham!?” Dada Tosari turun-naik dengan cepat menahan napas bercampur amarah. “Tempatnya hanya dalam pasungan!”
“Iya, Pak, tetapi tidak untuk Sofiah!”
“Kenapa tidak?”
“Sebab aku akan menikahi puteri Bapak ini,” kata Hamdani.
Tosari tersentak kaget. Seribu kunang-kunang menyala dalam kepalanya di pagi buta. Ia harus mencerna lebih dalam kata-kata yang barusan terlontar dari pemuda itu. Tetapi, ia gagal menemukan makna lain atas kalimat yang barusan ditangkap dan dikunyahnya itu.
“Kau mau menikah dengan perempuan gila…!?”
“Ya,” jawab Hamdani cepat. “Izinkan aku melamar puterimu!” (Bersambung) (Pepih Nugraha)
Halaman : 1 2

















