Air adalah kehidupan.
Beruntunglah Hamdani di mana dangau yang akan digunakannya sebagai berteduh bersama Sofiah, menghabiskan hari-hari pengobatan yang entah kapan akan berakhir, sangat dekat sumber kehidupan itu. Ia bisa mengambil air minum di bagian hulu atau pada air terjun yang juga pernah menyimpan kenangan indah bersama Sofiah.
Setelah tubuh Haji Ahyar ditelan gerumbulan pohon cemara di seberang sungai, Hamdani mengajak Sofiah duduk di dangau tanpa dinding itu. Ia menatap “kakak”-nya itu dan sesekali mengusap keringat yang menggenang di kening Sofiah dengan punggung tangannya.
Selagi Sofiah bisa duduk tenang, Hamdani mengeluarkan buntelan kain besarnya. Ada beberapa barang penting yang ia keluarkan, utamanya kastrol tembaga untuk menanak nasi, merebus singkong atau bahkan merebus air untuk menyeduh kopi. Apa sajalah.
Biji kopi masih biasa Hamdani temukan di atas bukit, sisa perkebunan beberapa tahun lalu yang sudah tidak terurus lagi. Ia bisa memetik biji kopi hijau sisa yang dibiarkan tumbuh liar untuk nanti disangrai, ditumbuk untuk dijadikan kopi tubruk.
Tidak ada tungku perapian di dangau itu, tetapi dengan cekatan Hamdani mengumpulkan bebatuan secukupnya dari sungai berair deras, menumpuk bebatuan itu sampai berbentuk huruf “U”, kemudian ia mencari ranting-ranting kering yang banyak berserakan di sekitar dangau atau agak menuruni jalan setapak. Ranting-ranting itu akan menjadi kayu bakar untuk memasak, setidak-tidaknya merebus air.
Tidak perlu waktu lama menyiapkan tungku untuk menaruh kastrol di atasnya. Hamdani mengeluarkan beras yang tidak akan cukup mereka makan berdua selama tiga hari. Tetapi perut yang melilit memaksanya untuk segera menanak nasi.
Agak mengherankan, Sofiah tidak pernah menyatakan lapar, haus atau sebangsanya. Apakah orang sakit ingatan tidak pernah merasakan haus dan lapar? pikirnya. Bagaimana ia mendapat asupan vitamin? Mengapa orang sakit ingatan tidak pernah terkapar sakit secara fisik?
Meski demikian, Hamdani tetap menanak nasi menggunakan kastrol tembaga di atas tungku batu yang beberapa menit lalu ia susun. Api dari ranting yang terbakar menyambar bagian luar badan kastrol dengan bentuk gembung itu, mendidihkan air di dalamnya.
Tidak sampai setengah jam, saat langit sudah seutuhnya gelap, nasi di dalam kastrol itu sudah berbentuk liwet yang siap di santap. Ada asin peda yang turut ia benamkan sebelumnya di kastrol, meruapkan aroma yang membuat perut semakin berontak lapar.
“Jangan khawatir, aku akan menyuapimu sepanjang kamu suka, Teh Sofi?” bisik Hamdani menyiapkan nasi liwet bercampur asin peda merah di atas piring seng.
Tidak ada jawaban. Sunyi.
“Kau masih ingat tempat ini, bukan?” tanya Hamdani lagi, berharap menautkan kembali ingatan Sofiah.
Masih tidak ada jawaban. Sofiah malah melengos.
“Di tempat ini aku akan berusaha mengembalikan lagi ingatanmu, Teh Sofi, dengan caraku sendiri.”
Sofiah meringkik, membuat bulu kuduk siapapun berdiri saat mendengarnya.
Derai tawa itu masih akan terus terdengar sampai jelang tengah malam nanti.
Mungkin.
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















