Apakah Sofiah juga merasakan hal yang sama?
Hamdani senandika.
Sampai pada suatu petang jelang magrib, Sofiah tidak biasanya mengajak Hamdani pergi ke suatu tempat. Dangau. Oh, dangau itu. Bukan, persisnya ke sebuah air terjun di hulu sungai berair deras yang tidak jauh dari dangau ini. Ke tempat itulah Sofiah menyeret Hamdani.
“Aku ingin menyampaikan berita penting di sana, Hamdan,” kata Sofiah saat menapaki jalan setapak beriringan. Hamdani membalas, “Semoga berita yang menyenangkan.”
Air terjun itu tidak pernah dijejaki manusia selepas magrib. Sunyi. Sepi. Hanya “lelembutan” atau makhluk halus saja yang biasa bersemayam di sana, demikian keyakinan masyarakat desa, sehingga tempat itu menjadi teramat angker.
Tetapi sejoli itu tidak dikuasai rasa takut. Mereka berdua justru ada di sana tatkala sunyi menjadi penguasa, merapatkan tubuh di atas batu di depan air terjun itu.
“Aku ingin berendam bersamamu, Hamdan,” bisik Sofiah persis di telinga lelaki yang baru beranjak akil balig.
Hamdani kaget luar biasa. Kekagetannya bertambah saat Sofiah mulai melepaskan pakaiannya, kemudian melucuti pakaian Hamdani. Sedetik kemudian Sofiah menyeret Hamdani dan melemparkannya ke kubangan yang dalam dekat air terjun.
Air menciprat ke udara. Seekor berang-berang yang biasa melintasi kubangan itu berbelok arah menyaksikan sepasang manusia yang sedang menyatukan tubuh.
“Aku harus pergi, Hamdan, ini pertemuan terakhir kita,” kata Sofiah kelelahan setelah beberapa lama, membaringkan tubuhnya di atas batu.
“Pergi ke mana, Teh Sofi?” tanya Hamdani di sampingnya.
“Ke kota,” balas Sofiah cepat. “Seorang pria tajir pilihan bapakku meminangku tadi malam.”
Sunyi.
“Ketahuilah Hamdan, aku sekarang sudah menjadi miliknya, bukan milikmu lagi,” bisik Sofiah lirih. “Mungkin tepatnya, aku tidak bisa memilikimu lagi.”
Hamdani terdiam seribu bahasa.
Tiba-tiba pada kelopak matanya mengembang cairan hangat yang berpadu dengan titik-titik air sungai yang masih tersisa. Baru pertama kali ini Hamdani menangis seusai beranjak akil balig. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Naluri kemudian membimbingnya bahwa ia harus segera pergi dari tempat itu sebelum malam belum terlalu jatuh.
“Kamu paham maksudku, Hamdan?”
Hamdani mengangguk perlahan dan siap-siap mengenakan pakaiannya lagi dengan perasaan yang terluka. Tetapi Sofiah menarik lengan Hamdani dengan cekatan, “Aku mau sekali lagi…!”
Hamdani tersadar dari lamunannya ketika celepuk hinggap di rangka atap dangau yang bolong, celepuk malang yang kehilangan pasangannya. Ia melirik Sofiah yang tertidur lelap dengan napasnya yang lembut menyembur ke bagian lehernya.
Nyanyian jangkrik dan serangga malam terdengar nyaring, bersilomba dengan suara gemericik air terjun di bawah dan aliran sungai yang deras. Ada suara babi hutan mendekat, tetapi Hamdani mengabaikannya.
Rasa lelah yang menekan membuat kesadarannya sampai ke titik nol.
Ia terlelap di samping Sofiah.
(Bersambung)
Pepih Nugraha
Halaman : 1 2

















