Hamdani bingung sendiri mau menyilakan tamunya duduk di mana, sementara Sofiah masih tertidur di dangau. Ia kemudian mengajak mahasiswi psikologi itu duduk lesehan saja di atas rumput kering.
Anehnya Dianti tidak keberatan dan ia bahkan mulai duduk bersila. Mengenakan celana jeans menjadi pilihan tepat karena ia bisa lebih leluasa bergerak. Ia mulai membuka buku tulis dan alat perekam suara.
“Ada yang bisa saya bantu, Nyai?” tanya Hamdani melihat tamunya seperti kikuk dan kebingungan. Kok jadi gini, batin Dianti.
“Sejujurnya aku hadir di ijab kabul pernikahan kalian tempo hari karena didorong keingintahuanku saja,” kata Dianti setelah berhasil menguasai diri, sukses mengumpulkan kata-kata.
“Bahkan aku sampai menguntit kalian saat datang ke rumah orangtuamu, tetapi….”
“Untuk apa sampai menguntit saya, Nyai?”
“Meminta kesediaanmu diwawancara untuk sebuah penelitian,” jawab Dianti. “Oh ya belum kukatakan tadi, aku mahasiswi psikologi Universitas Padjadjaran yang tertarik meneliti percintaanmu dengan Sofiah.”
Hamdani tekun mendengarkannya dengan penuh khidmat.
“Sebentar…. saya buatkan dulu kopi madu,” kata Hamdani beranjak dari rumput kering yang didudukinya untuk menyeduh kopi. Kastrol berisi air panas masih di atas tungku berbara api. “Mengapa tertarik meneliti tentang hal itu, Nyai?” tanya Hamdani kemudian setelah menyodorkan kopi madu kepada tamunya.
“Karena ingin mengetahui motifmu menikahi perempuan sakit ingatan,” jawab Dianti ‘to the point’. Ia menanti jawaban Hamdani, terutama apakah ia marah dengan pertanyaannya itu atau biasa-biasa saja.
“Apa yang ingin didapat setelah mengetahui motif saya menikahi Sofiah?” tanya Hamdani kemudian.
“Sebuah kajian yang melawan konsep ‘Oedipus Complex’ selama ini,” kata Dianti. “Emh… maaf, mungkin kamu kurang paham tentang apa yang saya maksudkan, biar saya jelaskan terlebih dahulu….”
“Ya, mungkin, itu urusanmulah, Nyai,” potong Hamdani,
“kenyataannya saya tidak terlalu memuji emak, tetapi toh saya sangat mencintai perempuan yang usianya jauh di atas saya.”
Dhuaaar…. ada ledakan dahsyat dalam kepala Dianti, tidak disangka Hamdani paham konsep ini.
“Bagaimana kamu menggambarkan sosok ibumu sendiri?” tanya Dianti.
“Emak adalah ibuku, saya menghormati emak yang telah melahirkan saya. Maka, tidak ada kebencian dalam diri saya saat emak mengusir saya dan Sofiah, tetapi saya juga tidak terlalu suka emak,” jawab Hamdani. “Saya hormat bapak yang selalu kalah oleh emak dalam segala hal.”
“Apa hubungannya semua itu dengan Sofiah?”
“Saya tidak tahu,” jawab Hamdani. “Sofiah tidak bisa dihubung-hubungkan dengan emak atau dengan siapapun.”
“Dia punya arti khusus buatmu?” tanya Dianti sambil menunjuk Sofiah yang kini sudah terbangun, menggeliatkan badannya. Hamdani segera menghampiri dan terlihat seperti membisikkan sesuatu. Kemudian dia kembali lagi ke Dianti yang masih menanti di atas rumput liar.
“Apa tadi pertanyaanmu, Nyai?” Hamdani balik bertanya setelah berada tepat di depan mahasiswi psikologi itu.
“Apa arti Sofiah buatmu? Apakah kamu mencintainya karena motif tertentu atau memang benar-benar kamu tulus mencintainya?”
Hamdani balik bertanya setelah menarik napas panjang, “Apakah kamu siap mendengarkan cerita saya ini, Nyai?”
Dianti mengangguk, kemudian berusaha lebih mendekatkan dirinya ke Hamdani.
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















