Demi melihat ada anak yang lebih dewasa meski itu anak perempuan, lima sekawan langsung berlari menyelamatkan diri. Mereka tidak mau dilaporkan oleh anak perempuan itu kepada orangtua masing-masing. Bagaimanapun, mencuri adalah perbuatan hina di kampung, bahkan untuk anak-anak desa.
Setelah kelima anak itu berlarian menyelamatkan diri, Hamdani jongkok sambil menangis, berusaha memunguti kembali pisang goreng dagangannya yang sudah berceceran bercampur tanah dan tidak mungkin untuk dijual lagi.
“Ah kau anak baik, Hamdan, sudahlah tidak usah menangis!” bujuk anak perempuan itu.
“Aku takut emak… emakku pasti marah,” isak Hamdani.
“Biar kuganti saja semua pisang goreng daganganmu, kebetulan aku memecahkan celenganku hari ini dan lumayan dapat uang tabungan banyak.”
Hamdani masih sesenggukan, ia tidak percaya pada perkataan anak perempuan yang mulai mengeluarkan sesuatu dari saku roknya. Uang. Benar saja, ia membeli semua pisang dagangan Hamdani hari ini. “Sudah jangan menangis lagi, ya, ini buatmu!” katanya.
Hamdani menghentikan tangisannya, tidak percaya atas kemurahan hati anak perempuan yang sudah dikenalnya itu.
“Terima kasih, Teh Sofi,” kata Hamdani menyebut nama anak perempuan yang memang layak dipanggil sebagai kakak.
“Apakah aku perlu mengantarkanmu ke rumah, Hamdan?”
“Ya, sebab aku takut menceritakannya kepada emak,” kata Hamdani. “Lagi pula emak tidak akan percaya aku memperoleh uang seharga seluruh dagangan tetapi pisang itu masih kembali, sementara aku tidak berani bercerita kalau aku dikeroyok anak-anak bengal itu.”
“Baiklah, mari kuantar pulang, Hamdan…!”
Dianti mendengarkan penuturan Hamdani dengan saksama, masih di atas rumput kering, sementara Sofiah terlihat duduk seperti orang tepekur di dangau. Ia mencatat segala ucapan Hamdani, juga merekamnya menggunakan alat perekam elektronik yang memang telah dipersiapkannya.
“Aku masih mendengarkan ceritamu,” kata Dianti seperti tak sabar.
“Minumlah dulu kopi madumu itu, nanti saya lanjutkan ceritanya, Nyai…”
Dianti menurut dan menyeruput lagi kopi bercampur madu yang tadi diseduh dan dihidangkan Hamdani, kemudian bertanya, “Bagaimana reaksi emakmu saat itu, saat kamu diantar Sofiah?”
“Sangat tidak terduga,” jawab Hamdani. “Saya pikir emak senang dengan uang pemberian Sofiah sebagai pengganti pisang yang digasak anak-anak nakal itu, ternyata tidak.”
“Jadi?”
“Emak marah dan menganggapku anak penakut, tidak berani melawan anak-anak pemalak pisang goreng, sedang yang mengejutkan adalah pandangan emak terhadap Sofiah.”
“Apa reaksi emakmu terhadap Sofiah.”
“Kupikir emak berterima kasih kepadanya,” kenang Hamdani, “namun di luar dugaan, emak marah malah. Dia bilang Sofiah berbaik hati kepada saya itu karena ada maunya. ‘Awas, jangan ajari anakku yang bukan-bukan, ya!’ teriak emak saat itu.”
“Terus, terus….!!!” Dianti tak sabar menanti kelanjutan cerita Hamdani.
“Saya marah luar biasa kepada emak,” kata Hamdani. “Bukannya berterima kasih, emak malah memarahi Sofiah.”
“Lalu…?”
“Sejak saat itu emak sangat benci Sofiah, sementara saya malu tak terperikan kepada perempuan yang telah menolongku itu, Nyai.”
“Kemudian…??”
Setelah mengambil napas sejenak, Hamdani berkata;
“Kalau begitu, baiklah saya lanjutkan cerita ini….”
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















