Yang terjadi Tosari memang tidak bisa mengelolanya. Pabrik tapioka tutup tidak lama kemudian.
Menutup utangnya kepada retenir, beberapa tumbak sawah, ladang dan kebunnya dijual murah, bahkan sebagian disita pemberi utang itu. Tiga tahun kemudian Tosari jatuh miskin. Boleh dibilang harta yang tersisa hanyalah tanah dan rumah yang ditempatinya.
Untuk menghidupi keluarga, Tosari menjadi buruh tani biasa. Ia mengerahkan seluruh anggota keluarganya membantu beban keluarga, termasuk Sofiah yang terpaksa harus berhenti saat naik ke kelas dua sekolah menengah atas.
Sofiah, anak perempuan satu-satunya Tosari biasa membantu mencari kayu bakar di hutan. Atau kalau sedang musim panen tiba, ikut memanen padi milik tetangga di sawah. Pokoknya apa saja Sofiah lakukan, tetapi lebih sering mencari kayu bakar di tepi hutan.
Sesungguhnya Sofiah berita-cita meneruskan sekolahnya ke perguruan tinggi di Bandung setelah tamat sekolah menengah atas. Cita-citanya berkuliah di fakultas ekonomi karena ingin bekerja kantoran.
Namun seiring dengan bangkrutnya Tosari, Sofiah pun harus mengubur cita-citanya itu. Ia frustasi, bahkan untuk menyelesaikan sekolah menengah atasnya di kota kecamatan pun kandas. Padahal, Sofiah adalah kembang desa. Orang percaya, sekolah bisa menaikkan harga dan kecantikan seorang perempuan.
Hari terus berjalan. Sofiah tumbuh sebagai kembang desa yang menawan hati. Sementara kehidupan ekonomi Tosari belum pulih kembali, meski ia sedang merangkak lagi dari nol. Sebagai buruh tani, Tosari melihat satu-satunya peluang agar hidupnya bisa terangkat lagi adalah Sofiah.
Ya, Sofiah.
Meski jelata, anak gadisnya itu tumbuh sebagai perempuan jelita, kembang desa yang banyak diakui kecantikannya oleh sejumlah lelaki di desanya maupun di desa tetangga. Tumbuhlah harapan pada diri Tosari dan sumber pengharapan itu adalah Sofiah.
“Apakah kau mengizinkan anakmu kujadikan istri keempatku, Mang Tosari?” kata Duyeh, lelaki desa tetangga yang memiliki banyak sapi, suatu waktu. “Kau boleh ambil seekor sapi yang paling besar jika mengizinkan anakmu kunikahi.”
“Tunggulah barang dua tahun lagi, Pak Duyeh, anak ini baru berumur enam belas,” jawab Tosari. “Masih di bawah umur dan aturan tidak boleh menikahkan anak perempuan di bawah umur.”
Sofiah diam-diam menguping percakapan itu saat bersiap-siap hendak pergi mencari ranting di pinggir hutan. Ingin muntah saja mendengarnya, tetapi dari situlah sadar, ia punya nilai setelah menjadi kembang desa. Ia tahu beberapa pemuda desa mendekatinya, bahkan sampai ada yang menyuratinya.
Anehnya, hati Sofiah tertambat kuat pada seorang anak yang baru akil balig, yang sering menemaninya mencari kayu bakar…..
Dianti menarik napas mendengar cerita Hamdani.
“Lalu bagaimana hubungan kalian selanjutnya?” tanya Dianti tatkala Hamdani menghentikan ceritanya karena Sofiah berteriak-teriak dari dangau. Ia segera menuju dangau, tetapi tidak lama kemudian sudah kembali lagi ke tempat Dianti duduk di rumput.
“Bagaimana kalau cerita saya lanjutkan lain kali, Nyai?”
Agak kecewa juga Dianti mendengarnya, tetapi ia menghargai keinginan narasumbernya itu. Namun sebelum berpamitan, Dianti memberi Hamdani sebuah buku notes lengkap dengan pulpennya. Hamdani pun bertanya untuk apa buku tulis dan pulpen itu.
“Kamu bisa menulis, bukan?” tanya Dianti. Hamdani mengangguk saat buku tulis dan pulpen sudah berada di tangan. “Nah, kuharap kamu menulis perkembangan Sofiah dari hari ke hari, sampai kemudian kamu rasakan adanya perbedaan.”
“Apakah boleh menulis tentang apa yang saya pikirkan dan rasakan?”
“Boleh, tentu saja.”
Siang jelang petang itu Dianti pamit meninggalkan dangau dengan berat hati setelah menyalami Hamdani tanpa menatap mata si lelaki.
Buang muka.
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















