Aku tahu, pasti kepalamu masih menyimpan itu semua. Kau juga pasti masih menyimpan cerita tentang terik siang dan seperangkat benda-benda tidak penting yang membawa kita menelusuri toko-toko mungil di setiap emperan jalan. Hanya sedikit percakapan dan bisu lebih menguasai kita. Aku tidak tahu mengapa, mungkin sifat kekanak-kanakan di antara kita tumbuh subur, sehingga kita di dominasi oleh rasa malu-malu yang kelewatan. Kali ini juga pinggangku tak lagi kau rangkul, bahuku tidak lagi menjadi tempat tenggelamnya semua harapan-harapan kita dulu. Tinggalah senyummu yang masih setia menyapaku. Itu semua membuat aku berpikir kau bukan yang ini dan dimanakah kau yang kemarin.
Perjalanan kita akhirnya terjeda, rupanya ada toko mungil di emperan jalan yang menarik perhatianmu. Ku lihat disitu ada jas hujan bergambarkan lumba-lumba, di samping kiri jas hujan ada kaos kaki, di atas kaos kaki ada bergelantungan macam-macam topi, dan masih banyak lagi isi dari toko itu. Satu persatu mulai kau memilih isi toko itu. Pantas saja kau mengajak untuk singga sebentar, ternyata toko mungil itu menyediakan seperangkat alat –yang kusebut tidak penting tadi- yang ada dalam catatanmu. Kau pun melirik ke arahku sambil berkata pelan, kalau kau ingin membeli sepatu putih dengan corak hitam disampingnya. Lalu aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, hanya senyum kecil yang dapat ku suguhkan. Aku semakin bingung, hubungan kita apa, kenapa beli sepatu saja harus bertanya padaku, pikirku.
Di tengah terik siang yang begitu menyengat kita lansung keluar dari toko dan kembali melanjutkan perjalanan. Sedikit-sedikit dua bola mataku mencoba melirik padamu, terlihat tetesan-tetesan peluh banyak berjatuhan di wajahmu. Lalu kau bertanya, Ada apa dengan wajahku? aku hanya tertawa kecil. Akibatnya punggungku menjadi sasaran amukan main-main kedua tanganmu. Kemudian kita berdua tertawa lepas di tengah kerumunan debu-debu jalanan yang tak terkendali lagi. Rasa-rasanya saat itu kita seperti berada dalam adegan film romantis antara sepasang kekasih yang sedang bahagia.
Jauh sudah jalan-jalan yang kita telusuri, dari Malioboro, benteng Vredeburg, Alun-alun utara, Tamansari, hingga tak sadar, kita telah sampai di sebuah bangunan sederhana tempat tinggalmu.
Tepat disitu momen terakhir kita berdua tercipta, sebelum kau menghilang dari kehidupanku. Aku selalu bertanya-tanya kemana dirimu, mengapa tak ada lagi kiriman pesan kabar darimu.
Kini aku hanya bisa menatap tak berkedip ke arah fotomu yang sengaja ku pasang pada dinding kamar –jujur saja, aku tidak mengada-ada soal fotomu itu- sambil mendengar lagu-lagu favorit kita berdua. Semua itu mengajak pikiranku untuk kembali mengingat tentang cerita-cerita kita dahulu. Cerita tentang kemesraan dan riuhnya pasar awal tahun. Dimana kita bergandengan tangan menyisir tempat-tempat yang menjanjikan bahagia. Juga sesekali kau ku rayu-rayu lantas dengan cepat kau juga mencubit perutku. Dan kau pun berteriak kecil saat ku colek pipimu dengan coklat es krim yang menjadi jajanan kita ditempat itu. Sontak orang-orang yang di sekitar itu menoleh aneh ke arah kita, namun kejadian itu hanya mengundang tawa kita berdua, tak perduli dengan pandangan orang-orang itu. Serasa dunia ini hanya ada kita berdua.
“Kenapa harus seperti ini” gumamku dalam hati.
Tiga tahun sudah itu berlalu, tapi kau belum juga hilang dari pikiranku. Dan dalam setiap lelapku masih kau yang selalu hadir menemaniku. Dimana kau yang dulu? Tidakkah kau ingin dengar ungkapan hatiku yang sebenarnya? Tidakkah kau ingin menyambung kisah masa lalu kita? Dalam kesendirian, aku selalu memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, dan selalu berharap akan menemui jawaban darimu.
Halaman : 1 2

















