Ajaib, tidak ada tawa hadirin yang seharusnya pecah melihat kelucuan ini. Hening. Sepi. Hanya terdengar tarikan napas saja. Diam-diam beberapa di antara mereka menitikkan air mata, padahal tidak ada kesedihan yang tergelar di depan mata mereka.
“Sudahlah, Pak Lebe, sahkan saja pernikahan ini,” kata seseorang dari belakang yang tidak lain dari Kuwu Syarif, tokoh desa juga. “Sayalah nanti yang bertanggung jawab.”
“Setujuuuuu….!!” tanpa aba-aba, suara hadirin bergemuruh riuh.
“Begini saja,” Pak Lebe angkat bicara. “Secara negara, pernikahan ini belum sah.”
Sontak terdengar bunyi berdengung hadirin, “Huuuuu…..!!”
Lebe melanjutkan, “Tetapi secara adat kampung, kita sahkan saja pernikahan ini, sebab Pak Kuwu yang hadiri di sini pun sudah setuju, betul?”
“Horeeee….!!!” kembali terdengar gemuruh hadirin.
Diam-diam jemari tangan kanan Hamdani meraih jemari kiri Sofiah, menumpukan di atas punggung tangannya. Ia mencuri pandang “kakak”-nya itu, sementara yang dipandang melengos, bergumam tanpa makna. Juruwarta yang cekatan mengabadikan peristiwa ini dengan tustelnya.
Meski wajahnya masih mengguratkan rasa kecewa, tetapi Hamdani merasa lega untuk sementara. Ia menarik napas panjang dan melirik lagi Sofiah yang kali ini mulai menyanyi lagi…
“diriku musafir lalu, lama hatiku beku
‘kan kusebar berita ini, aku cinta padamu…”
Sedikit legalah hati Hamdani, sebab ia tidak peduli pernikahan ini disahkan negara atau tidak, memperoleh surat nikah dari KUA atau tidak, yang lebih penting ia bisa bersama Sofiah tanpa dibayangi dugaan orang-orang menyalahi hukum dan adat. Ia ingin mengobati Sofiah dengan caranya sendiri.
Dianti, mahasiswi psikologi yang sedang kuliah kerja nyata di kampung sebelah dan bermaksud membedah perasaan Hamdani, diam-diam ikut menarik napas. Sejak tadi pagi ia sudah berbaur di antara ratusan hadirin. Mahasiswi berwajah oriental ini tiba-tiba menitikkan air mata, entah apa yang membuatnya bersedih.
Prosesi pernikahan itu berakhir.
Hadirin yang berada di dalam masjid satu persatu keluar, tetapi belum benar-benar meninggalkan lokasi itu. Mereka seolah-olah ingin mengantar kembali kedua mempelai ke rumah Tosari, rumah orangtua Sofiah. Tetapi tadi Tosari berpesan kepada istrinya bahwa ia tidak sudi lagi menerima anak perempuan satu-satunya kembali.
Membawa pengantin perempuan ke rumah orangtua Hamdani? Sejak ia berterus terang ingin menikahi Sofiah, Sumarti, emak Hamdani, menyatakan tidak sudi menerima menantu perempuan sinting. Ia siap-siap mengungsi ke kampung tetangga kalau sampai anaknya itu memaksakan diri. Kecuali Sopandi, ayahnya, yang lebih lunak dan tidak menunjukkan penolakan terbuka.
Perlahan-lahan Hamdani berdiri, menuntun Sofiah dengan sangat hati-hati ke luar dari masjid. Pak Lebe dan Pak Kuwu sudah lebih awal meninggalkan tempat itu. Beruntung, Sofiah tampak menurut, meski sesekali ia mengumpat menyebut sejumlah nama.
Baru saja pasangan pengantin itu ke luar dari masjid dan berdiri di halaman, seorang perempuan muda menyeruak dari kerumunan. Wajah tersaput angkara, napas turun-naik menahan amarah, sedang telunjuk terarah kepada Hamdani.
“Bajingan kau, Hamdan, dasar lelaki tak tahu diri!” (Bersambung)
Pepih Nugraha
Halaman : 1 2

















