“Dulu sekali sempat diajari bapak saya, Uwa, bagaimana membuat perangkap celeng atau berang-berang dari bambu jenis awi tali yang liat tanpa menggunakan paku sematapun, semata-mata menggunakan tali yang juga dipilin dari bambu. Sopandi, bapak saya itu pemilin dan pengayam bambu jempolan.”
“Tahukah Hamdan, celeng ini bisa kau jual ke pasar dengan harga yang sedikit rendah dari daging sapi, biasanya Koh Ahong atau Enci Yenyen membutuhkan dagingnya untuk mereka bikin bakso celeng.”
“Bukankah hasil penjualan celeng nantinya haram dimakan, Uwa?” tanya Hamdani bertelanjang dada, sementara Sofia tidak jauh-jauh duduk darinya, asyik menembang. “Orang desa Malausma tidak pernah ada yang menjual celeng di pasar kecamatan karena mereka tahu itu binatang haram.”
“Soal haram tidaknya memanfaatkan uang hasil penjualan celeng, aku kurang paham, Hamdan,” katanya. “Kukira Pangeran, Gusti Allah, tentu memahami kalau kau butuh makan untuk mempertahankan hidupmu, betul?”
“Benar juga, celeng ini tidak mungkin saya lepas, tidak mungkin juga saya bunuh begitu saja tanpa memanfaatkan dagingnya yang haram dimakan itu.”
“Nah, kau paham juga rupanya,” kata Haji Ahyar menawarkan sebatang rokok, “Lagi pula celeng ini bukan kau jual kepada sesama muslim, tetapi kepada yang bukan muslim, ya Koh Ahong dan Enci Yenyen itu setahuku. Kukira kau bisa membawa celeng ini ke pasar besok kalau tak keberatan memikulnya.”
“Saya akan pergi ke pasar menjual celeng ini besok, Uwa.”
Haji Ahyar kemudian mengalihkan pandang ke Sofiah.
“Oh ya, bagaimana keadaan anak perempuan Tosari ini setelah kurang lebih dua minggu bersamamu hidup di dangau ini? Adakah perkembangan ke arah yang lebih baik, maksudku… ia ada harapan untuk sembuh?”
“Sejauh ini belum ada perkembangan berarti, Uwa, meski bukan berarti tidak ada perkembangan sama sekali,” jawab Hamdani menuangkan air panas dari kastrol ke dalam dua cangkir kaleng berisi kopi, lalu memasukkan sebongkah sarang lebah berisi madu murni hasil perburuannya di kaki bukit. Satu cangkir ia berikan kepada Haji Ahyar.
“Tetapi saya percaya dia akan berangsur sembuh, yang penting telaten mengurusnya di tempat yang tenang ini,” kata Hamdani kemudian.
“Dengan cara apa kau mengobatinya?”
“Dengan merendam seluruh badannya sampai kepalanya terbenam di air sungai setiap dinihari,” jawab Hamdani. “Ada ajengan yang mengajari saya begitu, katanya pecandu obat bius dan orang sakit ingatan pun bisa berangsur sembuh, meski perlu waktu. Ini sekadar ikhtiar saja, Uwa.”
“Ya aku pernah dengar juga cara itu. Tetapi, tidak ada salahnya kau selingi dengan menderas kitab suci, khususnya pada malam hari, surah apa saja bisa kaubaca,” saran Haji Ahyar, “Murotal Alquranmu kukira cukup merdu, siapa tahu bisa lebih menenangkan jiwanya yang terguncang itu.”
“Saya akan coba lakukan mulai nanti malam,” jawab Hamdani. “Terima kasih sarannya, Uwa!”
“Baiklah, aku pamit ya…!” Haji Ahyar mulai melangkahkan kaki di atas jalan setapak yang menurun setelah menandaskan kopi-madunya. Tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkah dan berbalik badan. “Aduh, hampir saja aku lupa,” katanya sambil meminta Hamdani mendekat.
“Ada apa, Uwa?”
“Dua hari lalu kudengar ada mahasiswi cantik menemui Sopandi dan Sumiati, orangtuamu itu, Hamdan?”
Mahasiswi? Hamdani mengingat-ingat siapa saja yang pernah menemuinya selain wartawan sebelum dan saat ijab kabul pernikahan di Masjid Al-Kautsar.
Berhasil.
“Oh ya saya ingat, Uwa, tetapi… ada keperluan apa mahasiswi psikologi itu datang menemui orangtua saya?”
“Dia mencarimu, juga Sofiahmu.”
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















