“Dua pasang saja sepertinya, maksudku…. dua cangcut dan dua kutang.”
Dengan cekatan Nyimas Hindun membungkus pakaian dalam yang diminta Hamdani. Akan tetapi, Hamdani melihat ada yang aneh…
“Nyimas, yang kuminta dua pasang saja, kulihat kau memberiku tiga pasang cangcut dan kutang?”
“Begini, Dik, yang sepasang kuberi cuma-cuma,” katanya, “kau bayar seharga dua pasang saja… anggaplah ini penghargaan yang tak seberapa buat pengorbanan cinta seorang laki-laki sepertimu kepada seorang perempuan sakit ingatan.”
“Aku tidak minta dikasihani, Nyimas…”
“Ini bukan belas kasihan,” kata Nyimas Hindun seraya menyerahkan barang yang sudah terbungkus kertas koran. Hamdani segera menyerahkan selembar rupiah warna merah dan masih mendapat uang pengembalian. “Ini lebih penghargaan, meski tentu saja nilainya tidak seberapa…”
“Ah, kau begitu baik hati, Nyimas, terima kasih…”
Beranjak dari lapak pakaian, Hamdani pergi menuju kios beras. Dia sangat butuh makanan pokok itu setelah sekian lama hanya makan ubi jalar dan singkong. Penjual beras adalah seorang lelaki yang usianya beranjak senja. Mang Iing namanya, yang pada masa jayanya dulu pernah punya “huller” atau penggilingan mesin padi.
Hamdani segera membeli tujuh liter beras kualitas sedang untuk persediaan, tetapi Mang Iing memberinya sepuluh liter beras kualitas terbaik, Rojolele.
“Aku tidak perlu beras yang mahal, Mang, cukup beras IR 64 saja, lagi pula yang kupesan cukup tujuh liter saja, bukan sepuluh liter,” kata Hamdani mengoreksi pembeliannya.
“Begini, Hamdani,” kata penjual beras itu. “Mamang sudah mendengar cerita orang-orang tentang ketulusanmu mengurus seorang perempuan edan dengan segenap cintamu. Dulu Mamang pernah nonton film ‘Romi dan Yuli’ yang dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman, tetapi kurasa kisah cintamu dengan Sofiah jauh lebih dahsyat.”
Hamdani sedikit tersipu dan melirik Sofiah, yang dilirik memasang wajah cemberut, mungkin sudah kecapekan. “Baiklah, tetapi apa hubungannya dengan beras yang berlebih ini, Mang?”
“Kuberikan cuma-cuma sebagai penghargaan cinta tulusmu kepadanya,” kata Mang Iing menunjuk Sofiah sekaligus memberikan beras kepada Hamdani. “Ambillah!”
Demikianlah, kepada hampir setiap lapak yang Hamdani datangi, selalu saja ada kebaikan yang ia terima. Sampai-sampai ia berpikir, jangan-jangan orang-orang yang berbaik budi itu bukan menghargai ketulusan cintanya, melainkan lebih karena rasa iba atau kasihan kepada Sofiah.
Dengan pemberian yang tak terduga itu, ia merasa sedang memperdagangkan Sofiah. Lalu apa bedannya dengan manusia kota yang pernah memperdagangkan tubuh Sofiah dalam sebuah etalase kaca di Mangga Besar?
Perang badar sedang berkecamuk hebat dalam batin Hamdani. Sejatinya Hamdani masih ingin membeli kebutuhan lainnya, akan tetapi ia urungkan niat itu.
“Teh Sofi, kita harus segera pulang ke dangau,” bisik Hamdani dengan wajah tegang dan hati masygul.
Kedua tangan Hamdani kini penuh dengan barang-barang yang tadi ia beli, sedang Sofiah menurut begitu saja ketika Hamdani mulai agak menyeret lengannya sehingga langkahnya menjadi terpontal-pontal. “Perasaanku sungguh tidak enak,” bisiknya.
Sofiah tidak bereaksi, seperti biasa.
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















