“Kamu harus bersikap baik ya, Teh, saat ketemu emak nanti,” kata Hamdani membimbing Sofiah pulang sehabis sarang lebah madunya tandas terjual.
Sofiah tidak bereaksi, seperti biasa….
Nun jauh di suatu tempat yang berbilang jarak, seorang mahasiswi mengetuk pintu kantor fakultas kedokteran di universitas yang sama di mana ia berkuliah. Cantaka adalah seorang psikiater, dokter spesialis paling top di negeri ini yang mendalami ilmu kesehatan jiwa dan perilaku (psikiatri). Keahliannya adalah melakukan diagnosis, pengobatan, dan pencegahan terhadap gangguan emosional, kejiwaan, maupun perilaku.
Yang membuat Cantaka terkenal, selain dokter spesialis dan mengasuh rubrik kesehatan jiwa di stasiun televisi partikelir, ia banyak menangani para pesohor yang menderita gangguan mental. Memang tidak permah ada di koran siapa saja pasien-pasien tersohor seperti artis, selebritis atau politikus yang menjadi langganannya, tetapi Dokter Cantaka kadung dikenal sebagai dokter spesialis jiwa seleberitis.
Ia menyelesaikan pendidikannya sebagai dokter umum di universitas yang sama dengan Dianti, kemudian melanjutkan pendidikan spesialisasi di bidang psikiatri selama kurang lebih empat tahun. Gelar yang tersemat di belakang namanya adalah Sp.KJ, orang menyebut dokter itu sebagai psikiater, yang saat tampil di televisi, wajahnya mampu menyihir kaum perempuan, kendati usianya mendekati 40. Matang.
Ke ruang dokter spsialis kejiwaan itulah Dianti mengetuk pintu.
Terdengar bunyi langkah sepatu menghantam lantai menuju ke arahnya, ke arah pintu di mana di baliknya ia berdiri. Ketika sunyi mendaulat suasana, bunyi langkah itu terdengar jelas. Pintu dibuka dari dalam.
“Dianti?” sapanya.
“Benar, saya Dianti, yang kemarin menghubungi Bapak lewat ponsel,” jawab Dianti sambil mengulurkan tangannya berjabat tangan.
Cantaka, dokter spesialis kejiwaan itu menyambutnya dan menyilakan Dianti memasuki ruangannya. Setelah duduk, Cantaka menyilakan tamu menceritakan maksud dan keinginan menemuinya. Dianti pun menceritakan harapan dan sedikit permintaan yang telah dipersiapkannya itu.
“Jadi, apa persisnya yang bisa saya bantu, Dianti?” tanya Cantaka kemudian.
“Kerelaan Pak Cantaka membantu Sofiah,” jawab Dianti. “Suaminya punya metode khusus yang diyakininya dapat menyembuhkan Sofiah yang sakit ingatan, tetapi saya tidak yakin itu berhasil. Barangkali kalau Bapak punya waktu, saya dan suaminya akan membawa Sofiah menemui Bapak untuk didiagnosis.”
Tidak lupa Dianti menceritakan sekaligus menggambarkan kehidupan mereka di dangau yang berada di kaki hutan terpencil, jauh dari keramaian, lengkap dengan relasi asmara antara Sofiah dengan pasangannya, Hamdani.
“Kedengarannya ceritamu menarik,” kata Cantaka kemudian setelah Dianti bercerita secara rinci.
“Maksud Bapak?”
“Biar saya saja yang menemuinya di dangau itu,” kata Cantaka, “Kamu tak perlu membawanya kemari.”
Dianti tak percaya mendengarnya.
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















