Gelar dan Gertak Beda Tipis

- Jurnalis

Sabtu, 19 Juni 2021 - 18:44 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seperti di Indonesia, orang di Nigeria ingin dapat pengakuan di masyarakat. Hasrat yang lumrah, tapi kadang-kadang membuat orang seperti sinting, ketika pengakuan diperjuangkan dengan usaha habis-habisan. Bahkan rasa malu dikorbankan. Untuk diakui sebagai “pemberani”, misalnya, seseorang lari telanjang bulat menyeberangi lapangan bola waktu sebuah pertandingan final. Untuk diakui sebagai ”ilmuwan yang pintar”, orang berpidato satu jam mengutip Derrida, Foucault, Habermas (yang tak dipahaminya) di tiap alinea.

Kata “pengakuan” dalam bahasa Inggris disebut “recognition”.

Dalam kata recognition terkandung akar kata “cognosere”, “mengetahui”. Yang sering dilupakan, sejauh mana orang bisa mengetahui orang lain hingga bisa mengambil kesimpulan tentang dia dan menilai prestasinya? Tidakkah dengan klaim “mengetahui” orang lain kita sering meringkus orang lain itu ke dalam perspektif kita?

Berbeda dengan recognition, kata “pengakuan” — terhadap orang lain — lebih kaya kandungannya. Dalam “peng-aku-an” ada aku, subyek, yang memperlakukan seorang lain juga sebagai aku, subyek. Posisi aku sebagai subyek itu penting. Jika “pengakuan” itu dipaksa, dan hasilnya adalah sederet tepuk tangan pura-pura, yang memberi aplaus bukan subyek, melainkan obyek. Juga yang diberi aplaus palsu itu: ia diperlakukan sebagai obyek — yakni obyek penipuan.

Dengan kata lain, dalam pengakuan yang tak palsu, yang berlangsung adalah interaksi antara “aku X” dan “aku Z”. Keduanya sama-sama dihargai harkatnya. Hubungan mereka bukan hubungan antara bos dan anak buahnya.

Pengakuan orang lain yang merdeka berpikir dan berpendapat dan jujur itulah yang membangun kesadaran diriku sebagai “subyek”. Pengakuan adalah proses intersubyektif. Ketika Hegel memperkenalkan kata “perjuangan untuk pengakuan”, “Kampf um Anerkennung”, orang dapat kesan ia anggap pengakuan berlangsung dengan konflik. Tapi saya kira ia tak menanggalkan sifat dialogis dalam “Anerkennung.”

Gelar, yang dianggap simbol pengakuan, sebenarnya tak sepenuhnya bersifat dialogis. Gelar ditentukan setelah ada otoritas untuk menilai prestasi seseorang. Perlu ada hakim yang sabdanya tak untuk diragukan: universitas, istana, atau ketua adat.

Tapi otoritas itu membuat gelar jadi seperti ijazah yang dipigura. Wibawanya justru dalam arti yang stabil tapi mandeg. Seperti tampak dalam gelar raja-raja Jawa: Paku Alam, Paku Buwono, Amangkurat, Hamengku Buwono. Semua menggaris-bawahi kecenderungan yang tegar dan yang statis.

Gelar akademis tak mirip gertak yang intimidatif seperti itu. Jika kita setuju ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang dicari sampai ke liang lahat, gelar hanyalah ibarat halte dalam perjalanan. Bukan akhir, bukan puncak. Maka di perguruan tinggi yang mengutamakan keilmuan, para ilmuwan hanya menggunakannya sesekali. Dan jika itu bukan menandai prestasi akademis— seperti gelar Doctor Honoris Causa — penerimaan yang paling pas adalah dengan gaya Bob Dylan.

Di tahun 1970, Universitas Princeton memberinya gelar doktor kehormatan di bidang musik. Ia menerimanya dengan bingung. Selama upacara tak ada pidato. Bob Dylan diam. Selesai upacara ia langsung naik mobilnya, pergi. “All I can be is me – whoever that is.”

Follow WhatsApp Channel www.kabarbenggawi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Rekomendasi untuk Anda

Ketidaknetralan ASN dalam Pilkada Banggai Laut, Ancaman bagi Demokrasi Lokal
Menuju Bangkep Emas 2030, Peluang dan Tantangan
Koreografi Kekuasaan
Kepala Desa Bukanlah Raja Yang Berkuasa
Banjir dan Perda RTRW, Sebuah Refleksi Bencana Berulang Banggai Laut
Harapan Orang Desa Di Marka Jalan Eoforia Politik 2024
Tadarus Demokrasi: Menghadapi Derasnya Informasi Ditahun Politik
Menilisik Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
Berita ini 62 kali dibaca

Rekomendasi untuk Anda

Selasa, 26 November 2024 - 07:00 WITA

Ketidaknetralan ASN dalam Pilkada Banggai Laut, Ancaman bagi Demokrasi Lokal

Jumat, 18 Oktober 2024 - 15:44 WITA

Menuju Bangkep Emas 2030, Peluang dan Tantangan

Selasa, 30 Juli 2024 - 08:39 WITA

Koreografi Kekuasaan

Rabu, 10 Juli 2024 - 10:19 WITA

Kepala Desa Bukanlah Raja Yang Berkuasa

Jumat, 5 Juli 2024 - 10:43 WITA

Banjir dan Perda RTRW, Sebuah Refleksi Bencana Berulang Banggai Laut

Berita Terbaru

Banggai Laut

AKBP Sony Laway, Resmi Dilantik Jadi Kapolres Banggai Laut

Rabu, 15 Jul 2026 - 13:27 WITA

Foto Ilustrasi

Banggai Laut

Hasil temuan BPK, Diduga PPK Dikpora “Main Cantik” Atur Dua CV

Kamis, 9 Jul 2026 - 11:25 WITA

Bangkep

Pemdes Balayon Siap Gelar Rembug Stunting 2026

Rabu, 8 Jul 2026 - 21:23 WITA