Tak ada yang akan melihat wajah di baliho itu seperti pemuda kasmaran yang melihat di wajah kekasih sebutir bulan yang “menerangi hati gelap rawan”. Bahkan sembari orang duduk di kursi bus atau taksi, apalagi di atas sadel sepeda motor, tak banyak yang tergerak menatap baliho di tepi jalan itu.
Tapi wajah-wajah di baliho itu seperti berkulit penyu. Mereka tak peduli. Yang penting bagi mereka: sebagian dari diri mereka kelihatan ada, tak ketinggalan dari yang lain. Ini bagian dari ritual politik yang diharapkan akan melahirkan elite baru atau meneguhkan elite lama — dengan catatan, pengertian “elite” di sini terkait dengan status tanpa kualitas.
Sebab setelah deretan baliho yang itu-itu juga, hasil pemilihan hanyalah sejumlah politisi di parlemen yang pikiran dan ucapannya itu-itu juga. Mereka hanya buntut oligarki. Mereka dikuasai juragan partai.
Agak berbeda dengan itu adalah baliho untuk pemilihan presiden, yang di tengah-tengah wabah dengan tingkat kematian yang tinggi ini tetap dipasang seperti merayakan kehidupan baru. Tapi di sinipun, baliho adalah ringkasan. Hanya bedanya, kali ini wajah agak lebih menarik, bisa dibedakan satu dari yang lain. Mungkin karena penampilnya sedikit. Mungkin juga karena hari-hari ini belum jadi hari-hari kompetisi yang resmi, dan sebuah baliho dengan wajah tokoh A atau Z bisa jadi selingan di deretan tiang listrik dan pohon-pohon.
Tapi disinipun, wajah telah direduksi. Ia dibekukan dan dikuras kering dari kemungkinan yang tak disangka-sangka. Sang calon, agar bisa dipilih orang banyak, harus tampil sebagai wujud yang bisa diduga. Ia diringkus untuk tak menjadi Yang-Beda. Ia produk pembakuan.
Dengan kata lain, politik bergerak dengan Yang-Sama. Baliho diproduksi untuk menekankan hal ini. Bingkainya bukan saja untuk memudahkan ia dipasang, tapi juga untuk menjaga agar ia tak melintasi batas, atau identitas, yang dirancang. Yang Sama adalah yang jinak.
Mungkin itu sebabnya wajah dalam baliho gampang dijadikan alat kampanye — dengan kata lain: alat pemasaran — karena ia mudah diulang-ulang. Mudah diulang-ulang berarti mudah dikenali kembali, sebagaimana slogan-slogan. Politik adalah mesin familiaritas. Para operator mengoptimalkan apa yang sudah atau gampang dikenal untuk hasil yang diperhitungkan.
Mungkin nanti, jika pandemi membuat jalan sepi, baliho akan kehilangan dayanya. Di luar pandemi ia ada, ia berdaya, karena dilihat orang ramai. Mungkin kelak, ketika selain “bekerja-dari-rumah” akan ada “memilih-dari-rumah”, baliho adalah benda mubazir.
Tapi bisa jadi akan menetap sifatnya yang khas: menawarkan wajah yang tak bersuara. Di dalam persegi empat itu, tokoh politik meneruskan kebiasaan untuk tak menjawab. Wajah dilukis besar dan bagus, tapi baliho tak menandai satu program kerja apapun. Tak juga tampak ideologi yang bisa mengajak berpikir — yang merupakan ciri politik sekarang, ketika tokoh lebih penting ketimbang gagasan dan baliho berperan.
Baliho tetap sebuah ringkasan.*
Halaman : 1 2

















