Sastra

Perempuan Penyapu Halaman [9]

Oleh: Pepih Nugraha

Ada dua peristiwa besar sebelumnya yang membuat pasar kecamatan itu mendadak menjadi tempat berkumpulnya orang-orang. Sangat mendadak dan serempak.

Pertama, tidak ada yang memberi aba-aba, sejak beredar sas-sus calon presiden yang wajahnya sering tampil di televisi itu bakal hadir di sana untuk kampanye, tiba-tiba orang-orang tumblek-blek di sana.

Kedua, saat pasar kecamatan dijadikan tempat pengambilan gambar dan adegan sebuah sinetron di mana bintangnya adalah Nok Erni, penyanyi dangdut koplo yang sedang naik daun. Orang-orangpun memenuhi pasar tanpa aba-aba, ingin sekedar melihat wajah penyanyi tenar itu.

Peristiwa baru yang nyaris sama, boleh disebut peristiwa ketiga, yaitu hadirnya Hamdani yang memikul celeng yang kaki-kakinya terikat awi tali, sejenis bambu yang sangat kuat dan liat.

Seorang pemuda memikul celeng di pundak saja sudah menjadi berita besar, apalagi ia disejejeri seorang perempuan edan. Maka orang-orang-orang pun berkumpul lagi di sana tanpa aba-aba, sekadar ingin tahu drama kehidupan.

Lebih istimewa lagi, peristiwa itu terjadi tanpa pemberitahuan atau woro-woro sebelumnya.

Tiba-tiba saja pagi itu dari ujung jalan yang mengarah ke pasar yang sedang ramai karena hari pasar, seorang pemuda berbadan tegap yang hanya mengenakan kaus dalam bercelana komprang, berjalan santai dengan celeng dipundak. Di depannya, seorang perempuan asyik menembang, sesekali bergoyang menari erotis diselingi joget dangdut koplo yang sedang mewabah di desa Malausma.

Dua insan ini spontan menjadi sorotan dan tatapan orang-orang lengkap dengan kasak-kasuk mereka ketika desa itu nyaris tanpa sentuhan peristiwa luar biasa selama berbilang tahun. Hamdani dan Sofiah menjadi berita yang membuat orang-orang berkumpul tiba-tiba seperti kawanan semut rangrang menyeret bangkai kumbang.

Tetapi, ada juga yang menjauh karena takut perempuan edan itu benar-benar mengamuk di pasar, khususnya kaum perempuan juga. Keyakinan kampung itu menyatakan, orang edan akan semakin edan saat berada di keramaian pasar.

Sebaliknya, ada juga yang malah mendekat, yaitu anak-anak yang ingin berjoget koplo bersama, juga laki-laki normal yang masih menganggap bahwa Sofiah adalah bunga tercantik di desa itu. Dan, jumlah mereka jauh lebih banyak.

“Mengapa dia menjadi sinting seperti itu, ya?”
“Kudengar dia tertekan akibat dikhianati banyak lelaki hidung belang.”
“Kalian tahu ‘kan kalau dia pernah menjadi lonte di Mangga Besar?”
“Ah, kalau saja dia masih melonte, aku akan menyewanya untuk beberapa malam, tidak peduli uang hasil panen padiku habis.”
“Perempuan ini benar-benar kembang desa, istriku saja tidak secantik dia!”

Para lelaki terus berceloteh antar sesamanya.

Sedang, perempuan yang sedang diperbincangkan kaum laki-laki di pasar itu masih menari erotis, meliuk-liukkan pinggul dan bokongnya yang berisi.

Kaum laki-laki datang lebih mendekat, diam-diam mencuri pandang buah dada Sofiah yang tanpa kutang, menerbitkan imajinasi liar di kepala mereka. Sedang Hamdani, terus saja berjalan memikul celeng, mengiringi Sofiah menuju ruko di mana Koh Ahong membuka usaha di depan pasar kecamatan.

“Terus saja, Teh Sofi, itu tokonya sudah kelihatan,” kata Hamdani saat Sofiah berhenti sejenak. Mungkin kelelahan.

Sungguh, orang-orang itu tidak pernah tahu perjuangan Hamdani sampai kepada putusan harus pergi ke pasar beberapa jam sebelumnya….

Saat jantera bianglala raksasa yang melingkari cahaya rembulan itu muncul selepas tengah malam, Hamdani membangunkan Sofiah yang terlelap di dangau, seperti biasanya. Sebuah ritual yang diyakininya bakal menyejukkan pikiran Sofiah yang sedang terguncang, yaitu berendam di air sungai yang dingin di air terjun. Ritual itu masih Hamdani lalui.

“Bangunlah, Teh Sofi, kita akan ke pasar menjual celeng pagi ini,” bisik Hamdani di telinga Sofiah.

Kaki mereka sudah tidak dipersatukan dalam satu ikatan kain syal seperti hari-hari sebelumnya. Hamdani punya satu keyakinan, Sofiah tidak akan kabur atau lari kendati ia sedang tertidur pulas. Ia sudah berani melepas ikatan itu.

Belum lagi Sofiah membuka mata, Hamdani merasakan sesuatu yang membasihi pahanya. “Kamu ngompol lagi, Teh?” tanyanya kepada Sofiah yang masih tertidur. Dengan dian terbuat dari biji jarak yang direnceng, Hamdani ingin memastikan cairan apa gerangan yang membasahi pahanya.

Darah!

Hamdani memandang Sofiah yang masih terlelap. Ia memeriksa kain yang membalut tubuh perempuan itu dengan mendekatkan biji jarak yang masih menyala, menerangi seisi dangau. Kain itupun sudah basah dengan darah segar.

“Teh… Teh Sofi, bangunlah,” katanya mengggoyang-goyang pundak Sofiah pelan. “Kamu sedang datang bulan!”

Sofiah terbangun, tetapi ia tidak terlalu bereaksi atas pemberitahuan Hamdani tentang kainnya yang sudah penuh darah kotor. Ia terbangun karena ingin segera berendam dan menyelam di kubangan dekat air terjun itu seperti dinihari biasanya.

Sementara, Hamdani sibuk mencari selampe handuk yang terselip di buntelan besar dan teronggok di sudut dangau. Berhasil. Ia menyelipkan selampe handuk itu di saku celana komprangnya sebelum menuntun Sofiah menuruni jalan setapak menuju sungai tempatnya berendam.

Selampe handuk itu akan ia jadikan sebagai pembalut untuk menyerap darah kotor Sofiah yang sedang datang bulan.

“Dengarkan, Teh… hari ini aku akan membawamu ke pasar untuk menjual celeng ke Koh Ahong,” bisik Hamdani sambil melangkah di jalan setapak. “Kita akan punya uang untuk membeli segala keperluan.”

Hening. Tidak ada reaksi. Sofiah diam saja.

“Aku akan memakaikan baju yang pantas buatmu ke pasar, Teh, jangan khawatir soal datang bulanmu, aku sudah menyiapkan pembalut selampe untukmu,” bisik Hamdani lagi saat kaki mereka sudah terendam air sungai sebatas betis. “Ingat ya, di pasar nanti Teteh harus bersikap baik-baik, jangan ugal-ugalan!”

Sofiah meringkik sambil menceburkan diri….

Di pasar itu, Hamdani dan Sofiah terus berjalan, tanpa terlalu hirau dengan iring-iringan orang-orang yang terus membanyak.

Mang Enco tukang daging menitipkan dagangan kepada lapak tetangga hanya untuk melihat kemolekan Sofiah, perempuan sinting tetapi masih menerbitkan angan-angan liar pada pikiran lelaki. Mang Enco ingin membuktikan bahwa ia masih mampu bereaksi melihat kemolekan tubuh perempuan. Ia bosan kena maki istri yang menganggapnya sudah tidak mampu lagi, takut istri ketiganya itu menyeleweng.

Mang Beben berjingkat saat orang-orang berteriak ada perempuan cantik tapi edan sedang bergoyang dangdut koplo. Ia ingin membuktikan kebenaran sas-sas itu, hiburan kalau benar ada sekaligus ingin membuktikan bahwa istri barunya juga semontok Sofiah, perempuan sinting itu.

Sementara Mok Hindun meninggalkan lapak sayurannya begitu saja. Ia lebih ingin membuktikan apa kata orang, bahwa Sofiah adalah kembang tercantik di desa itu. Apalagi dia tidak sempat menyaksikan pernikahan perempuan sinting dengan pemuda sedesanya yang terpaut jauh usia.

Pasangan Hamdani-Sofiah terus berjalan. Sepelemparan batu lagi toko Koh Ahong sudah dapat diraih. Orang-orang terus mengikuti Hamdani yang masih memundak celeng dan Sofiah yang kini berjoget dangdut koplo. Anak-anak bernyanyi “Jaran Goyang” secara fasih dan hapal luar kepala, padahal mereka sering lupa lirik lagu “Garuda Pancasila”.

Akhirnya tiba jualah Hamdani dan Sofiah di depan toko Koh Ahong, toko yang paling besar di kota kecamatan itu.

Hamdani segera menurunkan celeng yang keempat kakinya sudah terikat dari pundaknya. Suara bedebum terdengar, menandakan bahwa celeng itu cukup montok dan punya berat ideal untuk dipotong. Celeng menjerit.

Di depan Hamdani, kini berdiri seorang lelaki bermata sipit, bertubuh gembur dan bertelanjang dada.

Koh Ahong.

(Bersambung)