Hamdani memandang Sofiah yang masih terlelap. Ia memeriksa kain yang membalut tubuh perempuan itu dengan mendekatkan biji jarak yang masih menyala, menerangi seisi dangau. Kain itupun sudah basah dengan darah segar.
“Teh… Teh Sofi, bangunlah,” katanya mengggoyang-goyang pundak Sofiah pelan. “Kamu sedang datang bulan!”
Sofiah terbangun, tetapi ia tidak terlalu bereaksi atas pemberitahuan Hamdani tentang kainnya yang sudah penuh darah kotor. Ia terbangun karena ingin segera berendam dan menyelam di kubangan dekat air terjun itu seperti dinihari biasanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara, Hamdani sibuk mencari selampe handuk yang terselip di buntelan besar dan teronggok di sudut dangau. Berhasil. Ia menyelipkan selampe handuk itu di saku celana komprangnya sebelum menuntun Sofiah menuruni jalan setapak menuju sungai tempatnya berendam.
Selampe handuk itu akan ia jadikan sebagai pembalut untuk menyerap darah kotor Sofiah yang sedang datang bulan.
“Dengarkan, Teh… hari ini aku akan membawamu ke pasar untuk menjual celeng ke Koh Ahong,” bisik Hamdani sambil melangkah di jalan setapak. “Kita akan punya uang untuk membeli segala keperluan.”
Hening. Tidak ada reaksi. Sofiah diam saja.
“Aku akan memakaikan baju yang pantas buatmu ke pasar, Teh, jangan khawatir soal datang bulanmu, aku sudah menyiapkan pembalut selampe untukmu,” bisik Hamdani lagi saat kaki mereka sudah terendam air sungai sebatas betis. “Ingat ya, di pasar nanti Teteh harus bersikap baik-baik, jangan ugal-ugalan!”
Sofiah meringkik sambil menceburkan diri….
Di pasar itu, Hamdani dan Sofiah terus berjalan, tanpa terlalu hirau dengan iring-iringan orang-orang yang terus membanyak.
Mang Enco tukang daging menitipkan dagangan kepada lapak tetangga hanya untuk melihat kemolekan Sofiah, perempuan sinting tetapi masih menerbitkan angan-angan liar pada pikiran lelaki. Mang Enco ingin membuktikan bahwa ia masih mampu bereaksi melihat kemolekan tubuh perempuan. Ia bosan kena maki istri yang menganggapnya sudah tidak mampu lagi, takut istri ketiganya itu menyeleweng.
Mang Beben berjingkat saat orang-orang berteriak ada perempuan cantik tapi edan sedang bergoyang dangdut koplo. Ia ingin membuktikan kebenaran sas-sas itu, hiburan kalau benar ada sekaligus ingin membuktikan bahwa istri barunya juga semontok Sofiah, perempuan sinting itu.
Sementara Mok Hindun meninggalkan lapak sayurannya begitu saja. Ia lebih ingin membuktikan apa kata orang, bahwa Sofiah adalah kembang tercantik di desa itu. Apalagi dia tidak sempat menyaksikan pernikahan perempuan sinting dengan pemuda sedesanya yang terpaut jauh usia.
Pasangan Hamdani-Sofiah terus berjalan. Sepelemparan batu lagi toko Koh Ahong sudah dapat diraih. Orang-orang terus mengikuti Hamdani yang masih memundak celeng dan Sofiah yang kini berjoget dangdut koplo. Anak-anak bernyanyi “Jaran Goyang” secara fasih dan hapal luar kepala, padahal mereka sering lupa lirik lagu “Garuda Pancasila”.
Akhirnya tiba jualah Hamdani dan Sofiah di depan toko Koh Ahong, toko yang paling besar di kota kecamatan itu.
Hamdani segera menurunkan celeng yang keempat kakinya sudah terikat dari pundaknya. Suara bedebum terdengar, menandakan bahwa celeng itu cukup montok dan punya berat ideal untuk dipotong. Celeng menjerit.
Di depan Hamdani, kini berdiri seorang lelaki bermata sipit, bertubuh gembur dan bertelanjang dada.
Koh Ahong.
(Bersambung)
Halaman : 1 2

















